Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
 
PENDAFTARAN DAN FORMULIR 
Formulir Pendaftaran dapat di download di sini

Atau silahkan hubungi langsung kepada kami dengan kontak person Sekertariat seminari no hp 085868063131. terima kasih. tb gandhi hartono, sj

P E N G U M U M A N


Seminari Menengah St.Petrus Canisius Mertoyudan, Magelang, mendidik lulusan SMP, SMA atau SMK yang berminat untuk menjadi imam.

MENERIMA PENDAFTARAN CALON SEMINARIS BARU TAHUN AKADEMIK 2010/2011.

1. PENDAFTARAN :
1.1. Pendaftaran Gelombang I
Waktu Pendaftaran
Tanggal Tanggal 6 Oktober 2009 s.d 10 Februari 2010
1.2.Pendaftaran Gelombang II :
Waktu Pendaftaran
Tanggal Tanggal 5 Maret 2010 s.d 25 Mei 2010
1.3. Syarat-syarat pendaftaran :
1.3.1. Laki-laki, sehat jasmani, rohani dan tidak buta warna atau cacat fisik dan merasa terpanggil untuk menjadi imam
1.3.2. Siswa yang saat ini duduk di kelas IX SMP atau kelas XII SMA / SMK atau siswa yang telah lulus .
1.3.3. Sudah dipermandikan minimal 1 tahun untuk siswa SMP dan
3 tahun untuk siswa SMA/SMK dibuktikan dengan Fotocopy
surat baptis.
1.3.4. Mengisi formulir yang sudah disediakan
1.3.5. Menyerahkan Pasfoto ukuran 3 x 4 sebanyak 6 lembar
1.3.6. Menyerahkan fotocopy Akta Kelahiran / Surat kenal lahir

2. PELAKSANAAN TES MASUK TAHAP 1
2.1. Gelombang 1 : Tanggal 25 Februari s.d 28 Februari 2010
2.2. Gelombang 2 : Tanggal 11 Juni s.d 13 Juni 2010.
2.3. Materi tes tahap 1 untuk siswa berasal dari SMP,SMA
maupun SMK :
2.3.1. Tes tertulis seminari : Bahasa Inggris, Matematika,
Bhs. Indonesia untuk calon siswa yang berasal dari SMP
2.3.2. Tes tertulis seminari : Bahasa Inggris dan Bahasa
Indonesia untuk calon siswa berasal dari SMA / SMK
2.3.3. Tes potensi akademik Universitas.Sanata Dharma Yogyakarta
2.3.4. Wawancara

3. PENGUMUMAN
3.1.Pengumuman hasil tes tahap 1 gelombang I : Akan
disampaikan kepada para peserta tes melalui Paroki masing-masing paling lambat tanggal 15 Maret 2010.
3.2. Pengumuman hasil tes tahap 1 gelombang II : Akan disampaikan kepada para peserta tes melalui Paroki masing-masing paling lambat tanggal 15 Juni 2010.
3.3. Siswa yang dinyatakan lolos tes tahap 1 ( Tes Tertulis Seminari, Tes Potensi Akademik Universitas Sanata Dharma dan Wawancara), diharapkan segera mengikuti tes tahap 2 ( tes kesehatan)
3.4.Pengumuman hasil tes tahap 2 ( tes kesehatan ) akan disampaikan melalui Paroki masing-masing segera setelah pihak Seminari menerima hasil tes kesehatan dari Rumah Sakit dimana peserta tes melakukan tes kesehatan.
3.5.Selanjutnya siswa yang lolos tes tahap 2 (tes kesehatan ) diharapkan segera melengkapi persyaratan administrasi yang akan disampaikan melalui surat pemberitahuan akhir.

4.Tahun Akademik 2010/2011 dimulai hari Senin tgl.13 Juli 2011

Demikian pengumuman penerimaan calon seminaris baru gelombang I dan gelombang II tahun pelajaran 2010/2011. Atas segala perhatiannya kami ucapkan banyak terimakasih.

Formulir Pendaftaran dapat di download di sini
24 Juni 2011 : HR KELAHIRAN ST YOHANES PEMBAPTIS 
Friday, June 24, 2011, 20:26 - RENUNGAN Posted by sumaryo
HR KELAHIRAN ST YOHANES PEMBAPTIS: Yes 49:1-6; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80
"Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.
Kelahiran anak pertama pada umumnya sungguh menggembirakan orangtuanya serta sanak-saudaranya atau kerabat-kerabatnya. Jauh sebelum anaknya dilahirkan biasanya orangtuanya telah merencanakan nama anak yang masih di dalam rahim atau kandungan ibunya. Orangtuanya pun kiranya juga memiliki dambaan atau cita-cita mulia terhadap anak yang akan dilahirkannya. Para suami-isteri yang telah bertahun-tahun menikah dan tidak segera dianugerahi anak kiranya ketika dianugerahi anak oleh Tuhan sungguh luar biasa kegembiraannya. Kiranya pengalaman macam itulah yang terjadi dalam diri Zakharia dan Elisabeth ketika dalam lanjut usia dianugerahi seorang anak laki-laki oleh Tuhan. Menurut tradisi seorang anak laki-laki yang baru saja dilahirkan harus diberi nama sama seperti nama ayahnya, namun anak yang dilahirkan oleh Elisabeth telah diberi nama oleh Tuhan, sebelum anak dikandungnya, yaitu Yohanes. Maka gempar dan penuh keheranan sanak-kerabat dan saudara-saudarinya
mendengar bahwa anak tersebut dinamai Yohanes, dan merekapun berkata :”Menjadi apakah anak ini nanti?”. Maka baiklah kita renungkan keheranan mereka atas kelahiran Yohanes ini.

“Menjadi apakah anak ini nanti?” (Luk 1:66)
Pertanyaan macam itu kiranya menjadi pertanyaan banyak orang terhadap seorang anak yang disertai oleh Tuhan, lebih-lebih bagi orang yang sungguh beriman. Anak yang baru saja dilahirkan kiranya masih bersih, suci, menarik dan mempesona, maka baiklah jika kita percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertainya, marilah ia kita didik dan dampingi sedemikian rupa sehingga “anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya” . Dengan kata lain hendaknya anak-anak didik dan didampingi agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur alias cerdas spiritual, tidak hanya sampai pada cerdas intelektual saja. Jika anak kelak kemudian hari tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas spiritual, percayalah ia pasti akan menjadi orang yang fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya dimanapun dan kapanpun, entah apapun pekerjaan  atau tugasnya.

Bahwa anak bertambah besar secara phisik kiranya merupakan hal biasa, namun hendaknya juga diperhatikan perihal jenis makanan maupun minuman bagi anak. Pertama-tama kami berharap anak-anak/bayi dapat menerima ASI dari ibunya secara memadai, dan hemat saya minimal selama satu tahun anak menerima ASI, syukur lebih. Pemberian ASI bagi anak selain merupakan makanan/minuman bergizi juga berfungsi menjalin kasih mesra antara anak dan ibunya, dan secara inklusif juga mencerdaskan belahan otak kanan, yang erat kaitannya dengan kecerdasan spiritual (ingat: bukankah ibu menyusui anaknya pada umumnya lebih-lebih dengan buah dada kiri, yang berarti belahan otak kanan anak menempel di buah dada!). Buah dada adalah symbol kasih dan sumber rezeki yang menyehatkan dan menyelamatkan. Ketika anak mulai diberi makanan tambahan selain ASI, hendaknya sedini mungkin berpedoman pada ‘empat sehat lima sempurna’, dengan kata lain anak sedini mungkin diperkenalkan dan
menikmati semua jenis makanan dan minuman  sehat, sehingga ketika dewasa mereka tak akan mengikuti selera pribadi dalam hal makan dan minum tetapi mengikuti pedoman hidup sehat. 

Kita semua berharap anak juga semakin kuat rohnya, tidak hanya semakin besar tubuhnya. Maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dilatih dan dibiasakan dalam hal sopan santun dan budi pekerti luhur, sehingga kelak ia memiliki sifat-sifat budi pekerti luhur atau keutamaan-keutamaan sebagai buah roh, seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan pengusaaan diri” (Gal 5:22-23). Pembinaan atau pembiasaan penghayatan keutamaan-keutamaan ini pertama-tama dan terutama dengan atau melalui keteladanan orangtua atau bapak-ibu, maka kami berharap bapak-ibu dapat menjadi teladan hidup berbudi pekerti luhur atau dijiwai Roh Kudus bagi anak-anaknya. Keteladanan merupakan cara utama dan pertama dalam mendidik dan mendampingi anak-anak yang tak tergantikan oleh cara apapun. Kami berharap juga sekolah-sekolah yang membantu para orangtua dalam mendidik anak-anak mereka juga lebih mengutamakan agar para peserta
didik tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur atau cerdas spiritual, jangan hanya berlomba dalam hal kecerdasan intelektual. Selanjutnya marilah kita renungkan apa yang menjadi tugas panggilan Yohanes Pembaptis.

“Menjelang kedatanganNya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis” (Kis 13:24)
Marilah anak-anak kita bina dan didik agar meneladan Yohanes Pembaptis, yaitu kelak mereka berseru dan mengajak semua orang untuk bertobat dan mempersembahkan atau menyucikan diri seutuhnya kepada Tuhan alias dibaptis. Dibaptis berarti disisihkan atau dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan sehingga mereka yang dibaptis hanya  mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan. Memang agar mereka berani dan mampu melaksanakan tugas pengutusan tersebut mereka harus tetap kuat dalam roh alias hidup dan bertindak dengan menghayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus di atas, sehingga tanpa berseru-seru kepada atau mengajak orang  lain untuk bertobatpun, mereka yang melihat cara hidup dan cara bertindak anak-anak yang bersangkutan tergerak untuk bertobat. Mereka yang melihat atau hidup bersama dengan anak-anak yang baik dan berbudi pekerti luhur juga akan mendengar suara dalam hatinya “Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai
bangsa-bangsa yang jauh! Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku” (Yes 49:1).

Kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk membuka mata dan telinga hati kita guna melihat dan mendengarkan suara Tuhan yang berbicara melalui anak-anak atau bayi atau anak yang masih berada dalam kandungan/perut ibunya.  Mata dan telinga merupakan dua dari lima indera kita yang penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan kepribadian kita, karena apa yang kita lihat dan dengarkan sungguh mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Bayi, termasuk yang masih ada di dalam kandungan, dan anak-anak hemat saya lebih suci daripada kita orang dewasa, dan dalam hidup beriman hemat saya yang harus lebih dihormati dan dijunjung tinggi adalah mereka yang lebih suci, maka selayaknya kita menghormati dan menjunjung tinggi anak-anak. Tidak memperhatikan dan mendidik anak-anak dengan baik sesuai dengan kehendak  Tuhan berarti membunuh masa depan mereka maupun menyuramkan masa tua/depan kita.

Kita berharap anak-anak kita kelak menjadi ‘bentara-bentara’ Penyelamat Dunia, pribadi-pribadi yang menyiapkan jalan bagi sesamanya untuk semakin beriman atau hidup suci atau menjadi penyalur rahmat dan kasih karunia Tuhan bagi sesamanya. Ketika anak-anak menjadi dewasa, dalam tugas dan pekerjaan apapun, kapanpun dan dimanapun, kita harapkan dapat membahagiakan atau menyelamatkan sesamanya alias fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya. Anak-anak adalah buah kasih yang diciptakan atau diadakan dalam kasih dan kebebasan, maka hendaknya juga didampingi dan dibesarkan dalam kasih dan kebebasan. Para orangtua atau pendidik hendaknya dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga dalam mendidik dan mendampingi anak, sebagai wujud mengasihi mereka. Mengasihi berarti juga dengan rela berani memboroskan waktu dan tenaga bagi yang dikasihi, tanpa pemborosan waktu dan tenaga kasih kurang mantap dan handal.

“Tuhan Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku kalau aku berdiri atau berjalan, segala jalanku Kaumaklumi.” (Mzm 139:1-3)
  
24 Juni 2011        

ign.sumarya sj

| 1 |

Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 22/May/2013 Time 21:31