Thursday, November 27, 2008, 18:24 - BUKU TAMU / FAQ Posted by Erick-Binyo (86-90)
Halo Moderator, Para Romo-Frater di Merto, dan Para Alumni!Saya coba klik "LINKS" di Main Menu tapi ternyata belum ada isinya.
Mengingat sudah sedemikian banyaknya milis alumni Seminari Mertoyudan, saya usul:
1. Bagaimana bila kumpulan milis alumni dikumpulkan dalam menu sendiri, misalnya di bawah menu Counter atau di mana sajalah. Contohnya bisa dilihat di merto.seminari.net
2. Bagaimana bila www.mertoyudan.org mulai diperkenalkan kepada milis-milis alumni tersebut dan diminta untuk dicantumkan pada bagian "Signature".
Terinspirasi oleh komentar Romo M. Hadi, semoga bisa lebih banyak kaum muda yang terinspirasi untuk masuk ke Seminari Mertoyudan.
Kalau diperkenankan, saya bersedia "hunting" memperkenalkan website ini kepada milis-milis alumni tersebut.
Sekian dulu.
Salam hangat & Berkah Dalem Gusti,
Erick-Binyo (86-90)
JAWABAN UNTUK SDR.ERICK-BINYO
Silakan kalau bermakud memperkenalkan website ini ke lingkungan yang lebih luas, khususnya di antara kaum remaja dan umat Katolik. Kalau ke milis alumni, mungkin banyak yang sudah tahu.
|
Thursday, November 27, 2008, 17:09 - BUKU TAMU / FAQ Posted by Ade \"Ambon\"
Romo Gustawan, Romo Hadi, Romo Handy, Romo Priyo, Romo Nano, Romo Madya dan semua romo yang ada di Seminari Menengah Mertoyudan...saya mau tanya,,,
apakah kami para eksim diperkenankan berkunjung di Seminari di luar jam kunjung???
terima kasih...
Romo Nano, ayo futsal....dah tak tunggu-tunggu je...
kami sekarang seing tanding lo...
Jawaban untuk saudara Ade "Ambon" :
Seminari membuka diri untuk menerima tamu dari mana pun. Tetapi waktu yang disediakan terbatas, yaitu pada Minggu Kunjungan (Mg II). Untuk kunjungan di luar jam kunjung, perlu ada pembicaraan khusus dengan Koordinator Penerimaan Tamu, yaitu Rm. Paulus Supriya Pr. Biasanya kalau yang berkunjung itu kelompok, disarankan untuk membuat surat ke Seminari tentang maksud kunjungan dan kapan, sebagai bahan pertimbangan. Tetapi kalau kunjungan itu bersifat pribadi dan tertuju pada Rama atau frater tertentu, bisa diatur sendiri dengan yang bersangkutan.
Terima kasih atas perhatian dan pengertiannya !
|
Thursday, November 27, 2008, 17:06 - BUKU TAMU / FAQ Posted by Ade \"Ambon\"
OKE...SAYA MERASA SUNGGUH LUAR BIASA DAPAT MENGAKSES SITUS INI. PADA AKHIRNYA SAYA DAPAT TAHU KEBERADAAN TEMAN-TEMAN ALUMNI...
SUNGGUH LUAR BIASA,,,
TAHX DAN SALUT BUAT YANG BIKIN...
|
Thursday, November 27, 2008, 13:19 - BUKU TAMU / FAQ Posted by M. Hariyadi
Wah bagus situsnya.Terus di update dengan news ya.
|
Wednesday, November 26, 2008, 13:36 - SISWA Posted by hadi
Pada tanggal 14 Oktober 2008, Seminari Mertoyudan mendapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur (BKPB), Magelang. Acara tersebut bertemakan “Meniti Jejak Peradaban Candi-Candi Peninggalan Mataram Kuno”. Pihak sekolah mengirim dua siswa dan seorang guru. Dari kelas XI dipilih Fikalis Rendy (XI IPS), kelas X dipilih Christoporus Yudha (XC), dan didampingi oleh Bpk. Wahab Cahyono.Acara tersebut berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 18 Oktober dan Minggu, 19 Oktober 2008. Berikut ini laporan singkatnya.Tepat pagi hari pada pukul 07.30 WIB kami tiba di kantor BPKB setelah diantarkan dengan mobil oleh Pak Darmono, sopir Seminari. Suasana masih sepi tetapi sudah ada beberapa siswa yang sudah hadir, yaitu dari SMA Candimulya dan SMAN I Ngluwar. Pada pukul 08.00 WIB sudah banyak siswa yang hadir dan melakukan registrasi. Dalam registrasi kami diberi perlengakapan mengunjungi candi dan juga souvenir dari BKPB. Adapun peserta yang ikut sebanyak 50 orang, terdiri dari siswa dan guru. Selanjutnya acara meniti jejak peradaban candi dibuka secara sederhana oleh Dinas Pendidikan dan Panitia. Ceramah dari Dr. Sumijati Atmosudiro tentang peninggalan menjadi pemanasan dan penambahan wawasan. Acara hari pertama diisi dengan perjalanan ke Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen.
Berikut ini beberapa informasi penting dari candi-candi yang kami kunjungi, antara lain:
1. Candi Borobudur
Kami sudah berkunjung ke Borobudur beberapa kali. Namun, berbeda dengan yang kami lakukan pada hari ini. Borobudur sungguh-sungguh merupakan simbol kebangkitan (awakening). Perjalanan pencerahan umat manusia yang digambarkan melalui kisah perjalanan pemuda yang bernama Sudhana. Kisahnya berakhir pada fragmen Bhadracari dimana Sumantabhadra memberi wejangan pada Sudhana. Proses penyempurnaan mencapai pencerahan tertinggi tentang kebenaran sejati (Paramita) diwujudkan dalam relief Lalistavistara, awadana, dan Jataka.
Dari hal itu, sangatlah sayang apabila kita hanya sekedar berkunjung saja tanpa membawa apa-apa yang bermakna. Dari sisi lain, fakta restorasi Borobudur yaitu:
a.Ditemukan pertama kali oleh Raffles pada tahun 1812 dalam kondisi penuh parah tertutup semak belukar.
b.Dilakukan pembersihan di bawah Cornelius pada tahun 1814 dengan 200 pekerja selama 2 bulan.
c.Tahun 1834, Residen Kedu ikut ambil bagian dalam pembersihan.
d.Tahun 1907-1911, Theodore Van Erp melakukan restorasi.
e.UNESCO (1973-1983) dan pemerintah Indonesia melakukan restorasi besar-besaran sehingga dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.
Candi Borobudur dibagi menjadi tiga tingakatan yaitu Kamadhatu (bawah), Rupadhatu (tengah), dan Arupadhatu (atas).
2. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen
Sebenarnya ketiga candi ini ditambah dengan Borobudur membentuk sebuah Mandala (lingkaran) yang mengitari Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen merupakan candi yang bercorak Budha. Candi Pawon termasuk salah saru candi Budha yang bentuknya ramping seperi candi Hindu. Candi Pawon juga sering di sebut sebagai Upa Angga (bagian dari candi Borobudur). Di masa lampau, candi Pawon merupakan tempat untuk penyimpanan abu sisa pembakaran jenasah Raja Indra. Letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah persimpangan antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Pawon sendiri cukup sering dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.
Candi Mendut berada di desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang. Candi Mendut letaknya menghadap ke barat sama dengan candi Pawon. Namun misteri itu belum dipecahkan sampai sekarang (mengapa sebuah candi selalu mengahadap ke barat?). Dalam ruangan atau ilik candi Mendut, kita bisa melihat dua arca yaitu arca Buddha Gkyamuni, arca Bodhisattwa Vajrapani, dan arca Bodhisattva Avalokitesvara.
Sementara itu di dusun Ngawen Muntilan terdapat Candi Ngawen. Candi Ngawen diapit oleh dua buah sungai yaitu kali Kebo (barat) dan Sungai Pabelan (timur). Lokasinya sendiri yaitu ada gugusan 5 buah candi yang masing-masing berbentuk bujur sangkar dari I – V.
Identifikasi kedua arca yang ada di candi Ngawen II dan IV adalah sebagai arca Pantheon Tathagata (=pan: seluruh dan theos: dewa).
3. Candi Prambanan
Candi ketiga ini kami kunjungi di hari terakhir perjalanan kami. Masing-masing candi cukup berbeda dengan bentuk candi yang kami kunjungi sebelumnya. Candi Prambanan terlihat besar menjangkar ke atas dengan puncak yang tinggi. Ada tiga bangunan candi yang penting di kompleks candi Prambanan yaitu candi Siva (Roro Jonggrang), candi Brahma, dan candi Wisnu. Sejak tragedi gempa jogja, 27 Mei 2006, ketiga candi penting itu justru tidak boleh dimasuki karena masih dianggap tidak aman bangunannya. Selain ketiga candi itu, ada pula candi Nandi, Andsa, dll. Candi-candi di kompleks candi Prambanan merupakan candi Hindhu terbesar di Pulau Jawa.
Perbaikan candi Prambanan tetap dilanjutkan terus menerus. Ketika kami berkunjung, ada dua candi yang sedang dalam perbaikan dan itu merupakan bukti bahwa candi Prambanan masih tetap diperhatikan.
Sementara itu di dekat candi Prambanan, berdiri tegak Candi Sewu. Candi Sewu terletak di dukuh Bener, Bugisan, Kecamatan Prambanan.
Candi Sewu termasuk candi yang berlatar belakang agama Bundha. Kompleksnya cukup luas dan di sekitar situlah kami beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya panorama pegunungan.
Candi Plaosan merupakan candi terakhir yang kami kunjungi. Candi Plaosan itu terletak di desa Plaosan, Yogyakarta. Candi Plaosan merupakan hasil akulturasi dari candi Hindu dan candi Budha. Bangunan yang di sekitar itu cukup besar dan banyak yang terpisah. Dan di situ pula hujan deras turun sehingga perjalanan kami hanya sedikit menelusuri candi Plaosan.
Nah, setelah berkeliling-keliling dan meniti jejak peradaban candi-candi peninggalan Mataram kuno, kami mengakhiri acara tersebut dengan penutupan di BKPB. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
Oleh: Fikalis Rendy A. dan Christoporus Yudha


|
Wednesday, November 26, 2008, 13:20 Posted by hadi
Pada tanggal 14 Oktober 2008, Seminari Mertoyudan mendapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur (BKPB), Magelang. Acara tersebut bertemakan “Meniti Jejak Peradaban Candi-Candi Peninggalan Mataram Kuno”. Pihak sekolah mengirim dua siswa dan seorang guru. Dari kelas XI dipilih Fikalis Rendy (XI IPS), kelas X dipilih Christoporus Yudha (XC), dan didampingi oleh Bpk. Wahab Cahyono.Acara tersebut berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 18 Oktober dan Minggu, 19 Oktober 2008. Berikut ini laporan singkatnya.
Tepat pagi hari pada pukul 07.30 WIB kami tiba di kantor BPKB setelah diantarkan dengan mobil oleh Pak Darmono, sopir Seminari. Suasana masih sepi tetapi sudah ada beberapa siswa yang sudah hadir, yaitu dari SMA Candimulya dan SMAN I Ngluwar. Pada pukul 08.00 WIB sudah banyak siswa yang hadir dan melakukan registrasi. Dalam registrasi kami diberi perlengakapan mengunjungi candi dan juga souvenir dari BKPB. Adapun peserta yang ikut sebanyak 50 orang, terdiri dari siswa dan guru. Selanjutnya acara meniti jejak peradaban candi dibuka secara sederhana oleh Dinas Pendidikan dan Panitia. Ceramah dari Dr. Sumijati Atmosudiro tentang peninggalan menjadi pemanasan dan penambahan wawasan. Acara hari pertama diisi dengan perjalanan ke Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen.
Berikut ini beberapa informasi penting dari candi-candi yang kami kunjungi, antara lain:
1.Candi Borobudur
Kami sudah berkunjung ke Borobudur beberapa kali. Namun, berbeda dengan yang kami lakukan pada hari ini. Borobudur sungguh-sungguh merupakan simbol kebangkitan (awakening). Perjalanan pencerahan umat manusia yang digambarkan melalui kisah perjalanan pemuda yang bernama Sudhana. Kisahnya berakhir pada fragmen Bhadracari dimana Sumantabhadra memberi wejangan pada Sudhana. Proses penyempurnaan mencapai pencerahan tertinggi tentang kebenaran sejati (Paramita) diwujudkan dalam relief Lalistavistara, awadana, dan Jataka.
Dari hal itu, sangatlah sayang apabila kita hanya sekedar berkunjung saja tanpa membawa apa-apa yang bermakna. Dari sisi lain, fakta restorasi Borobudur yaitu:
a.Ditemukan pertama kali oleh Raffles pada tahun 1812 dalam kondisi penuh parah tertutup semak belukar.
b.Dilakukan pembersihan di bawah Cornelius pada tahun 1814 dengan 200 pekerja selama 2 bulan.
c.Tahun 1834, Residen Kedu ikut ambil bagian dalam pembersihan.
d.Tahun 1907-1911, Theodore Van Erp melakukan restorasi.
e.UNESCO (1973-1983) dan pemerintah Indonesia melakukan restorasi besar-besaran sehingga dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.
Candi Borobudur dibagi menjadi tiga tingakatan yaitu Kamadhatu (bawah), Rupadhatu (tengah), dan Arupadhatu (atas).
2.Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen
Sebenarnya ketiga candi ini ditambah dengan Borobudur membentuk sebuah Mandala (lingkaran) yang mengitari Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen merupakan candi yang bercorak Budha. Candi Pawon termasuk salah saru candi Budha yang bentuknya ramping seperi candi Hindu. Candi Pawon juga sering di sebut sebagai Upa Angga (bagian dari candi Borobudur). Di masa lampau, candi Pawon merupakan tempat untuk penyimpanan abu sisa pembakaran jenasah Raja Indra. Letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah persimpangan antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Pawon sendiri cukup sering dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.
Candi Mendut berada di desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang. Candi Mendut letaknya menghadap ke barat sama dengan candi Pawon. Namun misteri itu belum dipecahkan sampai sekarang (mengapa sebuah candi selalu mengahadap ke barat?). Dalam ruangan atau ilik candi Mendut, kita bisa melihat dua arca yaitu arca Buddha Gkyamuni, arca Bodhisattwa Vajrapani, dan arca Bodhisattva Avalokitesvara.
Sementara itu di dusun Ngawen Muntilan terdapat Candi Ngawen. Candi Ngawen diapit oleh dua buah sungai yaitu kali Kebo (barat) dan Sungai Pabelan (timur). Lokasinya sendiri yaitu ada gugusan 5 buah candi yang masing-masing berbentuk bujur sangkar dari I – V.
Identifikasi kedua arca yang ada di candi Ngawen II dan IV adalah sebagai arca Pantheon Tathagata (=pan: seluruh dan theos: dewa).
3.Candi Prambanan
Candi ketiga ini kami kunjungi di hari terakhir perjalanan kami. Masing-masing candi cukup berbeda dengan bentuk candi yang kami kunjungi sebelumnya. Candi Prambanan terlihat besar menjangkar ke atas dengan puncak yang tinggi. Ada tiga bangunan candi yang penting di kompleks candi Prambanan yaitu candi Siva (Roro Jonggrang), candi Brahma, dan candi Wisnu. Sejak tragedi gempa jogja, 27 Mei 2006, ketiga candi penting itu justru tidak boleh dimasuki karena masih dianggap tidak aman bangunannya. Selain ketiga candi itu, ada pula candi Nandi, Andsa, dll. Candi-candi di kompleks candi Prambanan merupakan candi Hindhu terbesar di Pulau Jawa.
Perbaikan candi Prambanan tetap dilanjutkan terus menerus. Ketika kami berkunjung, ada dua candi yang sedang dalam perbaikan dan itu merupakan bukti bahwa candi Prambanan masih tetap diperhatikan. Bentuk Pemugaran salah satu candi di Prambanan. Diperbaiki karena batu-batu yang hancur terkena gempa. Usaha dari pemerintah yang terus menerus dalam melestarikan kebudayaan kuno.
Sementara itu di dekat candi Prambanan, berdiri tegak Candi Sewu. Candi Sewu terletak di dukuh Bener, Bugisan, Kecamatan Prambanan.
Candi Sewu termasuk candi yang berlatar belakang agama Bundha. Kompleksnya cukup luas dan di sekitar situlah kami beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya panorama pegunungan.
Candi Plaosan merupakan candi terakhir yang kami kunjungi. Candi Plaosan itu terletak di desa Plaosan, Yogyakarta. Candi Plaosan merupakan hasil akulturasi dari candi Hindu dan candi Budha. Bangunan yang di sekitar itu cukup besar dan banyak yang terpisah. Dan di situ pula hujan deras turun sehingga perjalanan kami hanya sedikit menelusuri candi Plaosan.
Nah, setelah berkeliling-keliling dan meniti jejak peradaban candi-candi peninggalan Mataram kuno, kami mengakhiri acara tersebut dengan penutupan di BKPB. Demikian laporan dari kami. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
Oleh: Fikalis Rendy A. dan Christoporus Yudha
|
Sunday, November 23, 2008, 03:31 Posted by hadi
Dalam lawatan panjang ke berbagai kota di Indonesia mulai 11 Nopember - 14 Desember 2008, Martin Jankowski menyempatkan diri berkunjung ke Seminari Mertoyudan. Kedatangannya difasilitasi oleh penyair Indonesia, mbak Dorothea Rosa Herliany, yang kebetulan Katolik dan punya rumah di Mertoyudan. Martin adalah penyair asal Jerman yang telah menghasilkan banyak karya dan mendapat berbagai “awards”. Dia boleh dibilang sebagai “talented writter". Ia menulis puisi, ceritera pendek, novel, esai, naskah drama, bahkan juga lagu-lagu. Martin sudah berkali-kali datang ke Indonesia dan banyak membuat puisi yang mengangkat permasalahan sosial Indonesia.
Pada hari Sabtu 22 Nopember 2008, dia datang ke Seminari dan bertatap muka dengan para seminaris dan staf. Dia membacakan sebagian puisinya dalam bahasa Jerman, Inggris dan Indonesia.Kumpulan puisinyatelah diterbitkan oleh Indonesiatera dengan judul "Detik-detik Indonesia". Dalam membaca puisinya tersebut, dia ditemani oleh mbak Dorothea dan mas Joni Ariadinata (cerpenis asal Gamping Yogya) yang sehari-hari bekerja sebagai redaktur majalah “Horison” di Jakarta.
Dalam sharingnya dia berceritera. Ketika Jerman Barat dan Jerman Timur masih terpisah oleh tembok Berlin, Martin ikut terlibat dalam aksi revolusi damai. Ia terlibat dalam kelompok doa untuk perdamaian. Ketika karya-karya sastranya masih dilarang untuk diterbikan, dia menyalurkan aspirasinya lewat lagu-lagu. Tetapi setelah pada tahun 1990 tembok Berlin jebol, Jerman bersatu, dan pemerintah baru membolehkan dia menerbitkan karya-karyanya, dia lebih menekuni pembuatan puisi dan karya sastra lainnya. Dalam kaitan ini, menjawab pertanyaan seorang seminaris, dia berceritera bahwa kata-kata dalam puisi tidak punya “power” dan tak bisa menjadi senjata untuk melakukan gerakan revolusioner. Puisi hanya bisa menjadi “stimulus” bagi gerakan revolusioner yang sudah ada, dan dalam hal ini revolusi di Jerman.
Kepada para seminaris, Martin menekankan perlunya membaca. Ia berpesan agar banyak membaca. Dengan membaca banyak buku, horison pengetahuan seseorang akan menjadi semakin luas, dan hal ini bisa menjadi pendorong bagi seseorang untuk memulai menulis. Sesungguhnya tidak ada teori yang jitu tentang menulis. Yang terpenting berani mulai berlatih, dan terus berlatih. Dengan rajin berlatih, seseorang akan semakin berkembang kompetensinya dan lama kelamaan akan bisa menjadi seorang penulis yang produktif.
Martin mengemukakan, antara penyair dan pastor ada kemiripannya. Baik penyair maupun pastor perlu banyak membaca. Keduanya punya pengalaman relegius. Seorang penyair menuangkan pengalaman religiusnya dalam karya seni dan mengkomunikasikan kepada publik. Seorang pastor menuangkan pengalaman religiusnya dalam bentuk homili dan mewartakannya kepada umat.
Acara ceramah ini, dari awal sampai akhir dilakukan dalam bahasa Inggris, karena sekaligus sebagai wadah pembelajaran bahasa Inggris bagi para siswa. Ceramah Martin didahului dengan sambutan dari Direktur Seminari, pembacaan riwayat hidup oleh mbak Doroethea, lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Setelah membacakan sebagian puisinya, Martin menceriterakan keterlibatannya dalam gerakan revolusioner melawan pemerintah Jerman Timur yang represif; kemudian berbagi kiat-kiat tentang menulis. Dalam bahasa Inggris seadanya, para seminaris menyampaikan macam-macam pertanyaan kepadanya, dan dijawab dengan bahasa Inggris yang mudah dimengerti. Dan setiap penanya, mendapat hadiah buku “Detik-detik Indonesia” dari Mbak Dorothea.



|

