Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
 
Pengunjung web mertoyudan 
Tuesday, August 26, 2008, 17:55 - BUKU TAMU / FAQ Posted by Koekoeh
Pertama, perkenalkan nama saya Koekoeh Hadi Santosa, KPP 85/86, domisili Tangerang.

Kedua biar terlambat, saya ucapkan proficiat kepada Romo Hadi, selaku "penguasa" seminari saat ini atas usahanya "menerbitkan" web seminari. Inilah salah satu usaha mewujudkan seminari sebagai "the moving school" yang progressive (klo boleh saya tambahin revolusioner yaa he he he) yang mampu menjawab tantangan dan tuntutan jaman yang terus bergerak bagai kereta cepat supersonic.
Read More...
Daftar Uskup Alumni dari Seminari 
Tuesday, August 26, 2008, 13:06 - KEUSKUPAN Posted by hadi

1. Mgr. A. Djajaseputra, SJ
2. Mgr. A. Sugijapranata, SJ
3. Mgr. A. Dibyakaryana, Pr
4. Mgr. H. Haripranata, SJ
5. Mgr. Cardinal J.Darmayuwono, Pr
6. Mgr. Leo Soekoto, SJ
7. Mgr. P. Hardjosumarto, MSC
8. Mgr. S. Prajasuto, MSF (Banjarmasin)
9. Mgr. A. Djajasiswaya, Pr
10. Mgr. Hadiwikarta, Pr

11. Mgr. Harsono, Pr
12. Mgr. Blasius Pujaraharja,Pr (Ketapang)
13. Mgr. Cardinal J. Darmaatmadja, SJ (Jakarta)
14. Mgr. HY. Pandoyoputro, O.Carm (Malang)
15. Mgr. Y. Harjosusanto, MSF (Tanjung Selor)
16. Mgr. A. Sutrisnaatmaka, MSF (Palangkaraya)
17. Mgr. J. Sunarka, SJ (Purwokerto)
18. Mgr. Ign. Suharyo, Pr (Semarang)
19. Mgr. J. Pujasumarta, Pr.(Bandung)
20. Mgr. N. Adi Saputra, MSC (Merauke).

Uskup KAS : Seminari tetap menjadi tempat pendidikan calon imam. 
Monday, August 25, 2008, 02:03 - KEUSKUPAN Posted by hadi
Sudah menjadi agenda rutin, Bpk. Uskup KAS mengadakan kunjungan pastoral ke Seminari Mertoyudan. Kali ini, kunjungan dilaksanakan tgl. 23 - 24 Agustus 2008, bersamaan dengan HOT (Hari Orang tua KPP dan KPA). Kunjungan ini diisi dengan aneka acara, yaitu : wawanhati dengan staf, pertemuan dengan komunitas, Misa dengan orang tua KPP-KPA bersama komunitas Seminari, wawanhati dengan orangtua dan pertemuan khusus dengan staf intern Seminari.

Dalam pertemuan dengan warga komunitas, seorang siswa bertanya : Seminari mau dibawa ke mana, terkait dengan wacana yang berkembang setelah Seminari mengadakan asesmen. Wacana yang sempat berkembang ada tiga, yaitu:1) Seminari dikembangkan menjadi SMA umum, 2) Seminari mendirikan SMA Umum, dan seminaris bersekolah di dalamnya (seperti SMA Gonzaga, Jakarta), 3) Seminari dipertahankan seperti selama ini. Bapak Uskup, Mgr. Ign. Suharyo Pr pada kesempatan itu mengatakan, Seminari Mertoyudan akan tetap dipertahankan sebagai tempat pendidikan bagi calon-calon imam. Hal ini ditegaskan lagi ketika mengadakan pertemuan dengan staf intern. Bpk.Uskup mengatakan, selama menjadi uskup KAS, Seminari akan dipertahankan dengan format seperti selama ini, yaitu sebagai tempat pendidikan bagi calon imam. Yang diterima di Seminari hanya calon yang punya motivasi menjadi imam. Namun kalau dalam perjalanan pendidikan, siswa tertentu menyadari bahwa dirinya tak terpanggil menjadi imam, dia tetap diperbolehkan meneruskan pendidikan hingga lulus SMA (tidak dkeluarkan dari Seminari). Terkecuali kalau siswa melakukan tindakan kriminal atau kehadirannya punya pengaruh amat buruk bagi mereka yang hendak meneruskan ke jenjang imamat. Alasan tetap dipertahankan seperti selama ini adalah, karena dengan format pendidikan sekarang ini ternyata sudah banyak perubahan menuju kemajuan dibuat oleh staf Seminari. Maka melakukan perubahan radikal dirasa tidak perlu. Yang diperlukan adalah melanjutkan perubahan-perubahan yang telah diusahakan selama ini, hingga Seminari berkembang menjadi semakin baik. Dengan jawaban dari Bapak Uskup ini, wacana mengenai perubahan format pendidikan Seminari menjadi tidak relevan untuk diperkembangkan lebih jauh.








Kunjungan Pendidikan ke Singapore dan Malaysia 
Sunday, August 24, 2008, 11:40 - AKADEMIK Posted by hadi
KUNJUNGAN PENDIDIKAN KE SINGAPORE DAN MALAYSIA

Saturday, August 23, 2008, 19:11



Guna menambah pengetahuan dan memperluas wawasan, Direktur SMA Seminari Mertoyudan bersama 45 Kepala SMA eks-karesidenan Kedu mengadakan kunjungan pendidikan ke Singapore dan Malaysia. Di bawah panduan Kumala Tour Yogya, tgl. 8 Juni kami berangkat dari bandara Adisucipto Yogya, singgah sebentar di Jakarta, langsung terbang ke Batam. Dari Batam kami menuju Singapore dengan naik kapal.Tanggal 9 Juni kami mengunjungi Jurong Junior College, Singapore.Dua hal yang menarik dari sekolah negeri ini. Pertama, sekolah ini menekankan "character building". Guru yang diterima di situ, kecuali harus memiliki kecakapan untuk mengajar, juga punya kecakapan dalam hal "character building". Yang kedua, sekolah ini mewajibkan guru maupun siswa untuk mengadakan penelitian terkait dengan bidan studi, kemudian mempresentasikan hasilnya.

Selepas dari Singapore, kami bersama rombongan naik bis menuju negara tetangga, Malaysia. Tanggal 10 Juni, kami mengadakan kunjungan ke Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Seri Serdang, Kuala Lumpur. Yang unik, mayoritas guru di sekolah ini ibu-ibu dan tentu saja semua berkerudung. Pelajaran Matematika, Inggris, Fisika, Kimia dan Biologi disampaikan dalam bahasa Inggris. Ujian mengambil sistem British, dan penyelenggaranya adalah Pemerintah Pusat (Kerajaan). Kurikulum juga ditentukan oleh Pemerintah. Kecuali itu, kami sempat mengadakan kunjungan kehormatan ke Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur, diterima oleh Atase Pendidikan (Bpk. Imran Hanafi). Dia mengatakan, standar kelulusan di Malaysia adalah 7 (jauh lebih tinggi dari standar yang dikeluarkan oleh Depdiknas). Siswa yang tidak lulus ujian, mendapat surat keterangan lalu diarahkan ke sekolah vokasional sesuai dengan minat mereka.

Tanggal 11 Juni, setelah bermalam di Genting Highlands, kami mengunjungi The International Islamic School, Kuala Lumpur. Sekolah ini hendak memadukan antara ilmu sekular dan keagamaan. Kurikulum yang dipakai dari Combridge, pelajaran tambahan Alquran. Siswa berasal dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.Kebanyakan gurunya dari luar negeri, khususnya dari Eropa dan Arab Saudi. Pengajaran dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Karenanya sekolah ini pantas disebut sekolah internasional. Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Mengembangkan Sekolah Berwawasan Internasional (SBI), tapi guru-gurunya semuanya masih dari dalam negeri. Yang menarik, di sekolah ini ada program "homestay" dan kepekaan sosial siswa diperkembangkan. Ketika di Aceh dan Yogyakarta terjadi bencana alam, perwakilan dari siswa dan guru berkunjung guna memberi sumbangan sosial.

Kunjungan pendidikan singkat ke Singapore dan Malaysia itu, saya lihat dan rasakan, bersifat meneguhkan hal-hal baik yang telah dijalankan di Seminari. Kecuali itu kunjungan tersebut memberi banyak inspirasi untuk penataan dan pengembangan Seminari ke depan supaya lebih maju, menjadi "The Moving School".








KUNJUNGAN PENDIDIKAN KE SINGAPORE DAN MALAYSIA 
Sunday, August 24, 2008, 02:11 Posted by hadi
Guna menambah pengetahuan dan memperluas wawasan, Direktur SMA Seminari Mertoyudan bersama 45 Kepala SMA eks-karesidenan Kedu mengadakan kunjungan pendidikan ke Singapore dan Malaysia. Di bawah panduan Kumala Tour Yogya, tgl. 9 Juni kami berangkat dari bandara Adisucipto Yogya, singgah sebentar di Jakarta, langsung terbang ke Batam. Dari Batam menuju kami ke Singapore dengan naik kapal.Tanggal 9 Juni kami mengunjungi Jurong Junior College, Singapore.Dua hal yang menarik dari sekolah negeri ini. Pertama, sekolah ini menekankan "character building". Guru yang diterima di situ, kecuali harus memiliki kecakapan untuk mengajar, juga punya kecakapan dalam hal "character building". Yang kedua, sekolah ini mewajibkan guru maupun siswa untuk mengadakan penelitian dan mempresentasikan hasilnya.

Selepas dari Singapore, kami dengan naik bis menuju Kuala Lumpur. Tanggal 10 Juni, kami mengadakan kunjungan ke Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Seri Serdang, Kuala Lumpur. Yang unik, mayoritas guru di sekolah ini ibu-ibu dan tentu saja semua berkerudung. Pelajaran Matematika, Inggris, Fisika, Kimia dan Biologi disampaikan dalam bahasa Inggris. Ujian mengambil sistem British, dan penyelenggaranya adalah Pemerintah Pusat (Kerajaan). Kami sempat mengadakan kunjungan kehormatan ke Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur, diterima oleh Atase Pendidikan (Bpk. Imran Hanafi). Dia mengatakan, standar kelulusan di Malaysia adalah 7 (jauh lebih tinggi dari standar yang dikeluarkan oleh Depdiknas). Siswa yang tidak lulus ujian, mendapat surat keterangan lalu diarahkan ke sekolah vokasional sesuai dengan minat mereka.

Tanggal 11 Juni, setelah bermalam di di Genting Highlands, kami mengunjungi The International Islamic School, Kuala Lumpur. Di sekolah ini hendak dipadukan antara ilmu sekular dan keagamaan. Kurikulum yang dipakai dari Combridge, pelajaran tambahan AlQuran. Siswa berasal dari berbagai negara%
DATA JUMLAH SISWA SEMINARI T.A. 1999/2000 s.d. 2008/2009 
Saturday, August 23, 2008, 14:54 - SISWA Posted by hadi

1. Tahun ajaran 1999/2000 : 245
2. Tahun ajaran 2000/2001 : 226
3. Tahun ajaran 2001/2002 : 213
4. Tahun ajaran 2002/2003 : 244
5. Tahun ajaran 2003/2004 : 234
6. Tahun ajaran 2004/2005 : 202
7. Tahun ajaran 2005/2006 : 198
8. Tahun ajaran 2006/2007 : 180
9. Tahun ajaran 2007/2008 : 201
10. Tahun ajaran 2008/2009 : 216.
Siswa KPP berfoto dengan Pamong 
Friday, August 22, 2008, 14:44 - SISWA Posted by hadi


<<First <Back | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | Next> Last>>

Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 25/May/2013 Time 7:28