Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
 
The Six Pillars of Character 
Saturday, August 9, 2008, 13:28 - NEWS / BERITA Posted by hadi
The Six Pillars of Character

________________________________________

These six core ethical values form the foundation of all Josephson Institute programs and materials. A chapter of the Institute's Making Ethical Decisions booklet provides a more detailed discussion of the Six Pillars.

Trustworthiness
Be honest • Don’t deceive, cheat or steal • Be reliable — do what you say you’ll do • Have the courage to do the right thing • Build a good reputation • Be loyal — stand by your family, friends and country

Respect
Treat others with respect; follow the Golden Rule • Be tolerant of differences • Use good manners, not bad language • Be considerate of the feelings of others • Don’t threaten, hit or hurt anyone • Deal peacefully with anger, insults and disagreements

Responsibility
Do what you are supposed to do • Persevere: keep on trying! • Always do your best • Use self-control • Be self-disciplined • Think before you act — consider the consequences • Be accountable for your choices

Fairness
Play by the rules • Take turns and share • Be open-minded; listen to others • Don’t take advantage of others • Don’t blame others carelessly

Caring
Be kind • Be compassionate and show you care • Express gratitude • Forgive others • Help people in need

Citizenship
Do your share to make your school and community better • Cooperate • Get involved in community affairs • Stay informed; vote • Be a good neighbor • Obey laws and rules • Respect authority • Protect the environment


Website Seminari 
Saturday, August 9, 2008, 01:31 - BUKU TAMU / FAQ Posted by Marcellinus M. Dallo
Selamat atas dibukanya website Seminari Mertoyudan ini. Sebagai salah seorang alumnus seminari ini, saya sangat senang bisa memasuki nya dan mengetahui keadaan dan situasi baik seminari sendiri dengan para staf dan pendidiknya maupun para alumnusnya.
Selamat ya... 
Friday, August 8, 2008, 19:58 - BUKU TAMU / FAQ Posted by Lukas Nugroho Putro
selamat ya atas website-nya... semoga content-nya selalu berubah dan dinamis



salam



lukas nugroho
STAF GURU DAN TATA USAHA 
Thursday, August 7, 2008, 23:07 - Posted by hadi
STAF GURU

1. P. Gunawan Sudarsana : Wakasek bid.Kurikulum,guru bhs.Ind.
2. Agus Prasetya Hadi : Wakasek bid.Humas, guru Fisika dan PA.
3. B. Maryana : Guru Sosiologi, Sejarah dan PS.
4. B. Rustamaji : Guru Sejarah, PKn, Jawa dan PS.
5. Wahab Cahyono : Guru Geografi
6. M. Surawan : Guru bahasa Inggris
7. L. Agung Sudarsono : Guru bahasa Inggris
8. R. Sapto Hartono : Guru Biologi, Jawa, dan Penget.Alam.
9. FX.Sulistiyanto : Guru Ekonomi, Jawa, dan PS.
10.A. Walyadi : Guru bahasa Indonesia dan Jawa
11.Y. Gathot Cahyo D : Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi
12.L. Esthi Handayani : Guru Matematika
13.Agnes Wardani : Guru Matematika
14.Th. Sri H. Wulandari : Guru Kimia dan Pengetahuan Alam
15.E. Santi Astuti : Guru bahasa Inggris
16.Ch. Eka Yuliati : Guru Katekese
17.Surya Sudharta : Guru Seni Budaya (melukis)
18.Sri Sugiyanto : Guru Pendidikan Jasmani
19.Rm.MJ. Riawinarta Pr. : Guru Seni Musik (Cantus).


STAF TATA USAHA
1. Y. Yuniarto Setiawan : Tata Usaha Rektorat
2. S. Sutarsih : Tata Usaha Sekolah
3. T. Sukarman : Tata Usaha Sekolah
4. Y. Bambang Sintoko : Teknisi Komputer dan Laboran
5. Y. Didik Sugiyanto : Tata Usaha Perpustakaan
6. F. Liana Maharastuti : Tata Usaha Perpustakaan.


PETRUS CANISIUS, PELINDUNG SEMINARI MERTOYUDAN 
Thursday, August 7, 2008, 17:04 - PROFIL Posted by hadi
PETRUS CANISIUS : PELINDUNG SEMINARI MERTOYUDAN

1. Petrus Canisius pantas diangkat sebagai pelindung Seminari Merto¬yudan karena dia menaruh perhatian besar pada pendidikan calon¬¬-calon imam dan mendirikan seminari-seminari.

2. Petrus Canisius lahir pada tanggal 8 Mei 1521 di kota Nijmegen, Belanda, dari pasangan Jacob Canis dengan puteri seorang apoteker yang terkenal. Ayahnya, Jacob Canis, seorang Walikota yang sangat dihormati oleh masyarakat. Canisius termasuk anak nakal yang sering meresahkan orangtuanya. Ketika keluarganya mengikuti Ekaristi di dalam gereja, dia malah bermain di halaman gereja. Bilamana di dalam gereja, dia sering berbuat iseng. Petrus Canisius sendiri mengaku bahwa dirinya termasuk sombong dan angkuh karena ayahnya adalah penguasa Namun setelah bertobat dari kenakalannya, Canisius suka melakukan visitasi di depan Sakramen Mahakudus di dalam gereja dekat sekolahnya. Dalam visitasinya inilah ia mulai merasakan kedekatan dengan Allah.

3. Sekolah pertama yang dimasuki oleh Petrus Canisius adalah sekolah berbahasa Latin di kota Nigjmegen. Ketika berumur 12 tahun Canisius pindah ke sekolah berasrama, hidup bersama teman laki-laki sebaya. Setelah menyelesaikan sekolah di Nijmegen, Canisius didaftarkan oleh ayahnya ke Universitas Koln (Jerman). Di Koln Canisius dititipkan pada seorang imam bernama Andrew Herll, yang tinggal di biara Carthusian dekat gereja St. Gereon. Gereja ini nantinya turut berperanan dalam menumbuhkan kerohanian Canisius. Selama tinggal di biara Koln itu, ada beberapa orang yang mempunyai pengaruh besar dalam hidup Canisius. Mereka itu adalah: Nicholas van Esche, Laurence Surius, Andrian dari Utrecht, Jorgen Skodborg, Gerard Kalckbrenner, dan Johann Justus. Mereka itulah yang menjadi pendamping Petrus Canisius dalam menghadapi suasana kota Koln yang kering, brutal, korup dan sekular. Umumnya mahasiswa Koln suka berkelahi, mabuk, judi, dan musik.

4. Setelah menyelesaikan studi filsafatnya di Koln, tahun 1539 Canisius melanjutkan studinya di Louvain, Belgia, untuk mengikuti kursus singkat hukum Gereja. Ayahnya sudah curiga pada kedekatan Canisius dengan para imam dan rahib Carthusian di Koln. Ayahnya bermaksud membelokkan kedekatan Canisus itu dengan menghadirkan seorang puteri cantik dalam hidupnya. Namun perempuan cantik itu tidak mampu mengubah minatnya pada hidup rohani. Canisius menyikapi tawaran ayahnya itu dengan mengucapkan kaul kemurnian pribadi. Segala usaha ayahnya untuk membelokkan Canisius dari cita-citanya tidak bisa mengalahkan karya Allah yang menghendaki dia menjadi imam.

5. Pada tahun 1540-1543, Canisius meneruskan belajar teologi. Canisius mengambil spesialisasi di bidang Kitab Suci. Persahabatannya dengan Laurence Sarius berkembang selama studinya di Universitas Koln. Mereka berkaul untuk tidak akan saling berpisah. Kaul ini sangat mengikat mereka. Jika salah satu di antara mereka masuk ke lembaga religius tertentu, yang lain harus mengikutinya juga. Pada Februari 1540 Surius masuk ordo Carthusian di Koln. Pilihan Surius ini membuat Canisius dalam kesulitan karena dia masih condong untuk masuk sebuah “ordo imam baru” yang masih ia tunggu. Ordo baru ini tidak muncul sampai sekitar 7 bulan setelah Surius masuk ordo Carthusian. Canisius tetap yakin akan panggilannya untuk masuk ordo imam baru yang keberadaannya belum ia ketahui. Sementara itu Canisius tetap melanjutkan studinya di Koln.

6. Pada suatu ketika, perhatian Canisius terarah pada seorang imam muda Spanyol, Alvaro Alfonso namanya. Setelah beberapa saat bertemu di Koln, Alvaro dan Canisius bersahabat. Allah bekerja melalui Alvaro Alfonso. Melalui dia untuk pertama kalinya Canisius mendengar ceritera yang sangat inspiriatif tentang Ignatius Loyola dan sahabat-sahabatnya, terutama Petrus Faber. Canisius lalu pergi mencari Petrus Faber di Mainz, Jerman. Ia disambut hangat oleh Petrus Faber. Tidak lama sesudah itu, Canisius manjalani Latihan Rohani di bawah bimbingan Pater Petrus Faber, salah seorang pendiri Serikat Yesus. Canisius menuliskan pengalamannya menjalani Latihan Rohani kepada temannya di Koln sbb.: ”Aku tidak dapat menemukan kata-kata untuk menggambarkan pengalamanku menjalani Latihan Rohani. Pengalaman ini mengubah jiwa dan perasaan-perasaanku, menerangi akal budiku dengan cahaya baru dan memberiku inspirasi dengan kekuatan yang menyegarkan. Melimpahnya rahmat ilahi juga mengalir dalam tubuhku. Aku sungguh-sungguh dikuatkan dan diubah menjadi manusia baru”.

7. Setelah menjalani Latihan Rohani, Petrus Canisius mengambil keputusan untuk menjadi seorang Yesuit. Pada tanggal 8 Mei 1543, dia diterima menjadi novis Serikat Yesus, dan menjalani novisiat di Mainz, Jerman. Dengan demikian, Canisius telah menemukan “ordo imam baru” yang telah sekian tahun lamanya ditunggu kelahirannya. Inilah saat terpenuhinya ramalan seorang wanita suci dari kota Arnhem bahwa Canisius akan bergabung dengan sebuah lembaga religius yang saat itu sedang dalam proses didirikan. Lembaga religius itu adalah Serikat Yesus.

8. Masa novisiat di Koln bagi Canisius menjadi masa pemisahan yang tenang dari kehidupan duniawi. Pada tanggal 8 Mei 1543, persis pada hari ulang tahunnya dan sekaligus hari pesta nama St. Mikael, Petrus Canisius mengucapkan kaul di dalam Serikat Yesus. Hari ini oleh Canisius dilihat sebagai hari kelahirannya yang kedua. Dia melihat Petrus Faber sebagai ayah keduanya yang telah melahirkannya kembali menjadi manusia baru di dalam Tuhan. Selanjutnya, Canisius kembali ke Koln untuk meneruskan studi teologinya. Ia ditahbiskan menjadi imam di Koln pada tanggal 12 Juni 1546.

9. Sebagai imam muda, Petrus Canisius diutus oleh Ignatius untuk mengajar di kolese Yesuit pertama di Messina, Sicilia. Tetapi tidak lama kemudian, pada bulan September 1549, Paus Paulus III mengutusnya ke Jerman untuk menangani misi penting, yaitu membela Gereja Katolik Jerman melawan serangan para reformator. Pada waktu itu, suasana Gereja di negeri Jerman sedemikian kacau sebagai akibat Reformasi. Umat sulit membedakan ajaran Gereja Katolik dan ajaran Luther. Canisius diminta membendung arus penyeberangan orang-orang Katolik ke Protestantisme dan mengembalikan mereka ke pangkuan Gereja. Lewat khotbah-khotbahnya, dia menjelaskan tema-tema pokok iman Katolik.

10. Pada bulan Februari 1552, Canisius diutus ke Wina, Austria, untuk mendirikan sebuah kolese Yesuit dan menyalakan kembali iman orang-orang Katolik. Di ibukota Austria itu, ia mendapati Gereja sudah kehilangan umatnya. Banyak juga, Gereja terpaksa ditutup karena tidak ada imamnya. Ia lalu mencari calon-calon imam, dan mendirikan sebuah seminari di dekat kolese Wina tersebut.

11. Selama berkarya di Wina, Petrus Canisius menghasilkan buku yang sangat terkenal, yaitu Katekismus. Buku itu menjadi sangat populer di Jerman karena memenuhi kebutuhan yang paling mendesak pada saat itu. Buku itu memuat ajaran Kristiani; terbit pada bulan April 1555. Buku itu ditulis dalam bahasa Latin, dengan judul: Summarium Doctrinae Christianae (Ringkasan Doktrin Kristen). Isi bukunya berupa tanya jawab karena dimaksudkan sebagai pegangan praktis bagi para pelajar kolese. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1556. Sebuah penyesuaian diterbitkan bagi anak-anak Sekolah Menengah dengan judul: Katekismus Singkat. Katekismus ini mengalami sekitar dua ratus kali cetak ulang selama Canisius masih hidup, dan terus dicetak ulang sampai abad XIX.

12. Pada bulan Juli 1555, ia pergi ke Praha untuk membuka sebuah kolese. Pada bulan Juni 1556, ia ditunjuk menjadi Provinsial di Jerman, dan tugas ini dijalaniselama empat belas tahun. Setelah dibebaskan dari tugas sebagai Provinsial pada tahun 1569, ia pergi ke Insburck untuk menulis buku-buku ilmiah dan berkhotbah. Pada tahun 1573, ia mengunjungi Roma untuk membicarakan situasi Jerman dengan Paus. Selama pembicaraan itu, ia menganjurkan supaya di Jerman didirikan lebih banyak seminari. Ia percaya, kalau persiapan para imam menjadi semakin baik, umat Katolik di paroki-paroki akan semakin baik pula.

13. Menginjak usianya yang ke-68, kesehatannya mulai memburuk. Keadaan ini memaksa dia menghentikan aktivitasnya. Pada tanggal 21 Desember 1597, pada usianya yang ke-76, ia meninggal dalam damai Tuhan. Petrus Canisius dinyatakan sebagai santo oleh Paus Pius XI pada taggal 21 Mei 1925, dan diberi gelar Pujangga Gereja. Pesta Santo Petrus Canisius dirayakan setiap tanggal 27 April.

14. Selama hidupnya ia telah mendirikan 18 kolese, dan mengarang 37 buku. Lewat khotbah-khotbahnya, ia berperan besar dalam membantu membangun kembali kekatolikan di Jerman. Kecuali itu, sumbangan penting yang pantas dicatat adalah perhatiannya yang besar terhadap pendidikan calon-calon imam untuk mendukung pembangunan Gereja. Hal terakhir inilah yang menjadi dasar utama mengapa Petrus Canisius diangkat sebagai pelindung Seminari Menengah Mertoyudan. Hidup dan semangatnya banyak memberi inspirasi untuk penyelenggaraan pendidikan calon-calon imam.


VISI, MISI, TUJUAN DAN NILAI DASAR SEMINARI 
Thursday, August 7, 2008, 14:56 - PROFIL Posted by hadi
VISI, MISI, TUJUAN DAN NILAI DASAR SEMINARI

A.VISI
Visi Seminari adalah menjadi komunitas pendidikan calon imam tingkat menengah yang handal dan berkompeten dalam mengembangkan sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), dan scientia (pengetahuan) ke arah imamat yang tanggap terhadap kebutuhan zaman.

B.MISI
Misi Seminari adalah
1.mendidik dan mendampingi seminaris (siswa) menjadi pribadi yang berkembang secara integral dalam sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), dan scientia (pengetahuan) ke arah kedewasaan sesuai dengan usianya sehingga semakin mampu mengambil keputusan sesuai dengan panggilan hidupnya.

2.menyelenggarakan pendidikan yang mampu membentuk dan mengembangkan seminaris menjadi pribadi yang jujur, setia, disiplin, bertanggung jawab, solider, mampu bekerjasama, berjiwa melayani, berani memperjuangkan keadilan, dan mampu berdialog dengan penganut agama/kepercayaan lain, dengan mengedepankan manajemen partisipatif.

C. TUJUAN
Tujuan Seminari
1.mendampingi seminaris dalam mengolah hidup rohani, panggilan, kegerejaan dan kemasyarakatan, agar mampu mengambil keputusan sesuai dengan panggilan hidupnya.

2.mendampingi seminaris untuk mengembangkan diri menjadi pribadi yang sehat secara fisik maupun psikis, dewasa secara manusiawi maupun kristiani, sehingga seminaris memiliki kesiapsiagaan untuk menanggapi panggilan Tuhan.

3.melaksanakan kegiatan pendidikan dan pembelajaran secara efektif dan efisien agar kompetensi seminaris berkembang secara optimal sehingga seminaris memiliki bekal yang memadai untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan imamat berikutnya.


D.NILAI-NILAI DASAR

Kegiatan pendidikan di Seminari dilaksanakan dengan mengedepankan dan mendasarkan diri pada nilai-nilai dasar, antara lain: iman, harapan, kasih, kejujuran, kesetiaan, kedisiplinan, tanggungjawab, solidaritas, keadilan, dan pelayanan.


PROFIL LULUSAN SEMINARI MERTOYUDAN 
Thursday, August 7, 2008, 03:00 - PROFIL Posted by hadi

PROFIL LULUSAN SEMINARI

Setelah menjalani pendidikan di Seminari, seminaris berkembang secara integral dalam sanctitas, sanitas dan scientia sehingga siap untuk meneruskan ke jenjang pendidikan imamat lebih lanjut. Profil yang diharapkan ada pada lulusan Seminari Mertoyudan adalah sebagai berikut

A. SANCTITAS
Terkait dengan sanctitas, seminaris berkembang hidup rohani, panggilan, kegerejaan, dan kemasyarakatannya.

1.Dalam hidup rohani, seminaris memiliki
a.keterarahan pada Kristus sebagai sumber dan pedoman hidup.
b.keterbukaan dan ketaatan kepada bimbingan Roh.
c.penghargaan terhadap tradisi hidup rohani, hidup doa dan sakramen-sakramen.
d.kebiasaan membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam konteks hidup nyata.
e.kemampuan dan kebiasaan berefleksi dan menjalankan pembedaan Roh.

2.Dalam hidup panggilan, seminaris memiliki
a.motivasi murni ke arah panggilan imamat.
b.kemampuan untuk memilih dan mengambil keputusan sesuai dengan panggilan hidupnya.
c.kemantapan dalam menghayati panggilan dengan menjadikan Bunda Maria sebagai teladan.
d.keterarahan hidup untuk menghayati tiga nasihat injili (ketaatan, kemurnian, kemiskinan).
3.Dalam hidup menggereja dan memasyarakat, seminaris memiliki
a.pengetahuan, perhatian dan kepeduliaan terhadap kehidupan Gereja dan masyarakat beserta masalah-masalahnya.
b.jiwa pelayanan dan semangat pengorbanan dalam melaksanakan tugas panggilannya sebagai calon pemimpin umat.
c.keterampilan berkomunikasi dan kemampuan berdialog dengan penganut agama dan kepercayaan lain.

B. SANITAS
Terkait dengan sanitas, seminaris memiliki
a.keseimbangan dalam pikiran dan perasaan
b.kemampuan untuk menerima diri apa adanya dan berusaha mengolahnya agar mempunyai kemantapan dalam kepribadiannya.
c.kebebasan batin sehingga seminaris mampu menghayati nilai-nilai, antara lain: kejujuran, kesetiaan, kedisiplinan, ketekunan, tanggung jawab, solidaritas, keadilan, dan pelayanan.
d.kesadaran diri sebagai calon imam dalam membangun relasi secara baik dengan semua orang.
e.pandangan dan penghayatan yang sehat terhadap seksualitas.

kesehatan jasmani maupun rohani (fisik–psikis) yang memungkinkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan imamat berikutnya.

C. SCIENTIA
Terkait dengan scientia, seminaris memiliki
a.tradisi membaca dan studi yang kuat, serta menemukan cara belajar yang cocok untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam bidang intelektual.
b.keterbukaan terhadap informasi dunia dan mempunyai inisiatif untuk mengembangkan pengetahuan.
c.kemampuan untuk berpikir secara logis, kritis, kreatif, analitis, dan sintetis.
d.pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk masuk ke jenjang pendidikan imamat selanjutnya.
e.sikap dan kesanggupan untuk belajar sepanjang hidup.





<<First <Back | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | Next> Last>>

Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 20/June/2013 Time 6:40