Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
   
MENITI JEJAK PERADABAN CANDI-CANDI PENINGGALAN MATARAM KUNO 
Wednesday, November 26, 2008, 13:20 Posted by hadi



Pada tanggal 14 Oktober 2008, Seminari Mertoyudan mendapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur (BKPB), Magelang. Acara tersebut bertemakan “Meniti Jejak Peradaban Candi-Candi Peninggalan Mataram Kuno”. Pihak sekolah mengirim dua siswa dan seorang guru. Dari kelas XI dipilih Fikalis Rendy (XI IPS), kelas X dipilih Christoporus Yudha (XC), dan didampingi oleh Bpk. Wahab Cahyono.Acara tersebut berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 18 Oktober dan Minggu, 19 Oktober 2008. Berikut ini laporan singkatnya.

Tepat pagi hari pada pukul 07.30 WIB kami tiba di kantor BPKB setelah diantarkan dengan mobil oleh Pak Darmono, sopir Seminari. Suasana masih sepi tetapi sudah ada beberapa siswa yang sudah hadir, yaitu dari SMA Candimulya dan SMAN I Ngluwar. Pada pukul 08.00 WIB sudah banyak siswa yang hadir dan melakukan registrasi. Dalam registrasi kami diberi perlengakapan mengunjungi candi dan juga souvenir dari BKPB. Adapun peserta yang ikut sebanyak 50 orang, terdiri dari siswa dan guru. Selanjutnya acara meniti jejak peradaban candi dibuka secara sederhana oleh Dinas Pendidikan dan Panitia. Ceramah dari Dr. Sumijati Atmosudiro tentang peninggalan menjadi pemanasan dan penambahan wawasan. Acara hari pertama diisi dengan perjalanan ke Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen.

Berikut ini beberapa informasi penting dari candi-candi yang kami kunjungi, antara lain:

1.Candi Borobudur
Kami sudah berkunjung ke Borobudur beberapa kali. Namun, berbeda dengan yang kami lakukan pada hari ini. Borobudur sungguh-sungguh merupakan simbol kebangkitan (awakening). Perjalanan pencerahan umat manusia yang digambarkan melalui kisah perjalanan pemuda yang bernama Sudhana. Kisahnya berakhir pada fragmen Bhadracari dimana Sumantabhadra memberi wejangan pada Sudhana. Proses penyempurnaan mencapai pencerahan tertinggi tentang kebenaran sejati (Paramita) diwujudkan dalam relief Lalistavistara, awadana, dan Jataka.

Dari hal itu, sangatlah sayang apabila kita hanya sekedar berkunjung saja tanpa membawa apa-apa yang bermakna. Dari sisi lain, fakta restorasi Borobudur yaitu:

a.Ditemukan pertama kali oleh Raffles pada tahun 1812 dalam kondisi penuh parah tertutup semak belukar.
b.Dilakukan pembersihan di bawah Cornelius pada tahun 1814 dengan 200 pekerja selama 2 bulan.
c.Tahun 1834, Residen Kedu ikut ambil bagian dalam pembersihan.
d.Tahun 1907-1911, Theodore Van Erp melakukan restorasi.
e.UNESCO (1973-1983) dan pemerintah Indonesia melakukan restorasi besar-besaran sehingga dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.
Candi Borobudur dibagi menjadi tiga tingakatan yaitu Kamadhatu (bawah), Rupadhatu (tengah), dan Arupadhatu (atas).

2.Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen

Sebenarnya ketiga candi ini ditambah dengan Borobudur membentuk sebuah Mandala (lingkaran) yang mengitari Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen merupakan candi yang bercorak Budha. Candi Pawon termasuk salah saru candi Budha yang bentuknya ramping seperi candi Hindu. Candi Pawon juga sering di sebut sebagai Upa Angga (bagian dari candi Borobudur). Di masa lampau, candi Pawon merupakan tempat untuk penyimpanan abu sisa pembakaran jenasah Raja Indra. Letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah persimpangan antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Pawon sendiri cukup sering dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.

Candi Mendut berada di desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang. Candi Mendut letaknya menghadap ke barat sama dengan candi Pawon. Namun misteri itu belum dipecahkan sampai sekarang (mengapa sebuah candi selalu mengahadap ke barat?). Dalam ruangan atau ilik candi Mendut, kita bisa melihat dua arca yaitu arca Buddha Gkyamuni, arca Bodhisattwa Vajrapani, dan arca Bodhisattva Avalokitesvara.

Sementara itu di dusun Ngawen Muntilan terdapat Candi Ngawen. Candi Ngawen diapit oleh dua buah sungai yaitu kali Kebo (barat) dan Sungai Pabelan (timur). Lokasinya sendiri yaitu ada gugusan 5 buah candi yang masing-masing berbentuk bujur sangkar dari I – V.
Identifikasi kedua arca yang ada di candi Ngawen II dan IV adalah sebagai arca Pantheon Tathagata (=pan: seluruh dan theos: dewa).

3.Candi Prambanan

Candi ketiga ini kami kunjungi di hari terakhir perjalanan kami. Masing-masing candi cukup berbeda dengan bentuk candi yang kami kunjungi sebelumnya. Candi Prambanan terlihat besar menjangkar ke atas dengan puncak yang tinggi. Ada tiga bangunan candi yang penting di kompleks candi Prambanan yaitu candi Siva (Roro Jonggrang), candi Brahma, dan candi Wisnu. Sejak tragedi gempa jogja, 27 Mei 2006, ketiga candi penting itu justru tidak boleh dimasuki karena masih dianggap tidak aman bangunannya. Selain ketiga candi itu, ada pula candi Nandi, Andsa, dll. Candi-candi di kompleks candi Prambanan merupakan candi Hindhu terbesar di Pulau Jawa.

Perbaikan candi Prambanan tetap dilanjutkan terus menerus. Ketika kami berkunjung, ada dua candi yang sedang dalam perbaikan dan itu merupakan bukti bahwa candi Prambanan masih tetap diperhatikan. Bentuk Pemugaran salah satu candi di Prambanan. Diperbaiki karena batu-batu yang hancur terkena gempa. Usaha dari pemerintah yang terus menerus dalam melestarikan kebudayaan kuno.

Sementara itu di dekat candi Prambanan, berdiri tegak Candi Sewu. Candi Sewu terletak di dukuh Bener, Bugisan, Kecamatan Prambanan.
Candi Sewu termasuk candi yang berlatar belakang agama Bundha. Kompleksnya cukup luas dan di sekitar situlah kami beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya panorama pegunungan.

Candi Plaosan merupakan candi terakhir yang kami kunjungi. Candi Plaosan itu terletak di desa Plaosan, Yogyakarta. Candi Plaosan merupakan hasil akulturasi dari candi Hindu dan candi Budha. Bangunan yang di sekitar itu cukup besar dan banyak yang terpisah. Dan di situ pula hujan deras turun sehingga perjalanan kami hanya sedikit menelusuri candi Plaosan.

Nah, setelah berkeliling-keliling dan meniti jejak peradaban candi-candi peninggalan Mataram kuno, kami mengakhiri acara tersebut dengan penutupan di BKPB. Demikian laporan dari kami. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.


Oleh: Fikalis Rendy A. dan Christoporus Yudha

MARTIN JANKOWSKI BACA PUISI DI SEMINARI 
Sunday, November 23, 2008, 03:31 Posted by hadi

Dalam lawatan panjang ke berbagai kota di Indonesia mulai 11 Nopember - 14 Desember 2008, Martin Jankowski menyempatkan diri berkunjung ke Seminari Mertoyudan. Kedatangannya difasilitasi oleh penyair Indonesia, mbak Dorothea Rosa Herliany, yang kebetulan Katolik dan punya rumah di Mertoyudan. Martin adalah penyair asal Jerman yang telah menghasilkan banyak karya dan mendapat berbagai “awards”. Dia boleh dibilang sebagai “talented writter". Ia menulis puisi, ceritera pendek, novel, esai, naskah drama, bahkan juga lagu-lagu. Martin sudah berkali-kali datang ke Indonesia dan banyak membuat puisi yang mengangkat permasalahan sosial Indonesia.

Pada hari Sabtu 22 Nopember 2008, dia datang ke Seminari dan bertatap muka dengan para seminaris dan staf. Dia membacakan sebagian puisinya dalam bahasa Jerman, Inggris dan Indonesia.Kumpulan puisinyatelah diterbitkan oleh Indonesiatera dengan judul "Detik-detik Indonesia". Dalam membaca puisinya tersebut, dia ditemani oleh mbak Dorothea dan mas Joni Ariadinata (cerpenis asal Gamping Yogya) yang sehari-hari bekerja sebagai redaktur majalah “Horison” di Jakarta.

Dalam sharingnya dia berceritera. Ketika Jerman Barat dan Jerman Timur masih terpisah oleh tembok Berlin, Martin ikut terlibat dalam aksi revolusi damai. Ia terlibat dalam kelompok doa untuk perdamaian. Ketika karya-karya sastranya masih dilarang untuk diterbikan, dia menyalurkan aspirasinya lewat lagu-lagu. Tetapi setelah pada tahun 1990 tembok Berlin jebol, Jerman bersatu, dan pemerintah baru membolehkan dia menerbitkan karya-karyanya, dia lebih menekuni pembuatan puisi dan karya sastra lainnya. Dalam kaitan ini, menjawab pertanyaan seorang seminaris, dia berceritera bahwa kata-kata dalam puisi tidak punya “power” dan tak bisa menjadi senjata untuk melakukan gerakan revolusioner. Puisi hanya bisa menjadi “stimulus” bagi gerakan revolusioner yang sudah ada, dan dalam hal ini revolusi di Jerman.

Kepada para seminaris, Martin menekankan perlunya membaca. Ia berpesan agar banyak membaca. Dengan membaca banyak buku, horison pengetahuan seseorang akan menjadi semakin luas, dan hal ini bisa menjadi pendorong bagi seseorang untuk memulai menulis. Sesungguhnya tidak ada teori yang jitu tentang menulis. Yang terpenting berani mulai berlatih, dan terus berlatih. Dengan rajin berlatih, seseorang akan semakin berkembang kompetensinya dan lama kelamaan akan bisa menjadi seorang penulis yang produktif.

Martin mengemukakan, antara penyair dan pastor ada kemiripannya. Baik penyair maupun pastor perlu banyak membaca. Keduanya punya pengalaman relegius. Seorang penyair menuangkan pengalaman religiusnya dalam karya seni dan mengkomunikasikan kepada publik. Seorang pastor menuangkan pengalaman religiusnya dalam bentuk homili dan mewartakannya kepada umat.

Acara ceramah ini, dari awal sampai akhir dilakukan dalam bahasa Inggris, karena sekaligus sebagai wadah pembelajaran bahasa Inggris bagi para siswa. Ceramah Martin didahului dengan sambutan dari Direktur Seminari, pembacaan riwayat hidup oleh mbak Doroethea, lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Setelah membacakan sebagian puisinya, Martin menceriterakan keterlibatannya dalam gerakan revolusioner melawan pemerintah Jerman Timur yang represif; kemudian berbagi kiat-kiat tentang menulis. Dalam bahasa Inggris seadanya, para seminaris menyampaikan macam-macam pertanyaan kepadanya, dan dijawab dengan bahasa Inggris yang mudah dimengerti. Dan setiap penanya, mendapat hadiah buku “Detik-detik Indonesia” dari Mbak Dorothea.






CERAMAH PENGEMBANGAN WAWASAN KEBANGSAAN 
Saturday, November 22, 2008, 23:45 - NEWS / BERITA Posted by hadi
Hari Selasa sore, 18 Nopember 2008, di Seminari Mertoyudan diselenggarakan ceramah wawasan kebangsaan, dihadiri oleh warga komunitas Seminari. Judul ceramah adalah : �Strategi Pengembangan Wawasan Kebangsaan Berdasarkan Nilai Spiritualitas�. Ceramah diberikan oleh Rm. Mayor Yos Bintoro Pr.
Read More...

<<First <Back | 36 | 37 | 38 | 39 | 40 | 41 | 42 | 43 | 44 | 45 | Next> Last>>

 
Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 7/September/2010 Time 18:52