Sunday, November 23, 2008, 03:31 Posted by hadi
Dalam lawatan panjang ke berbagai kota di Indonesia mulai 11 Nopember - 14 Desember 2008, Martin Jankowski menyempatkan diri berkunjung ke Seminari Mertoyudan. Kedatangannya difasilitasi oleh penyair Indonesia, mbak Dorothea Rosa Herliany, yang kebetulan Katolik dan punya rumah di Mertoyudan. Martin adalah penyair asal Jerman yang telah menghasilkan banyak karya dan mendapat berbagai “awards”. Dia boleh dibilang sebagai “talented writter". Ia menulis puisi, ceritera pendek, novel, esai, naskah drama, bahkan juga lagu-lagu. Martin sudah berkali-kali datang ke Indonesia dan banyak membuat puisi yang mengangkat permasalahan sosial Indonesia.
Pada hari Sabtu 22 Nopember 2008, dia datang ke Seminari dan bertatap muka dengan para seminaris dan staf. Dia membacakan sebagian puisinya dalam bahasa Jerman, Inggris dan Indonesia.Kumpulan puisinyatelah diterbitkan oleh Indonesiatera dengan judul "Detik-detik Indonesia". Dalam membaca puisinya tersebut, dia ditemani oleh mbak Dorothea dan mas Joni Ariadinata (cerpenis asal Gamping Yogya) yang sehari-hari bekerja sebagai redaktur majalah “Horison” di Jakarta.
Dalam sharingnya dia berceritera. Ketika Jerman Barat dan Jerman Timur masih terpisah oleh tembok Berlin, Martin ikut terlibat dalam aksi revolusi damai. Ia terlibat dalam kelompok doa untuk perdamaian. Ketika karya-karya sastranya masih dilarang untuk diterbikan, dia menyalurkan aspirasinya lewat lagu-lagu. Tetapi setelah pada tahun 1990 tembok Berlin jebol, Jerman bersatu, dan pemerintah baru membolehkan dia menerbitkan karya-karyanya, dia lebih menekuni pembuatan puisi dan karya sastra lainnya. Dalam kaitan ini, menjawab pertanyaan seorang seminaris, dia berceritera bahwa kata-kata dalam puisi tidak punya “power” dan tak bisa menjadi senjata untuk melakukan gerakan revolusioner. Puisi hanya bisa menjadi “stimulus” bagi gerakan revolusioner yang sudah ada, dan dalam hal ini revolusi di Jerman.
Kepada para seminaris, Martin menekankan perlunya membaca. Ia berpesan agar banyak membaca. Dengan membaca banyak buku, horison pengetahuan seseorang akan menjadi semakin luas, dan hal ini bisa menjadi pendorong bagi seseorang untuk memulai menulis. Sesungguhnya tidak ada teori yang jitu tentang menulis. Yang terpenting berani mulai berlatih, dan terus berlatih. Dengan rajin berlatih, seseorang akan semakin berkembang kompetensinya dan lama kelamaan akan bisa menjadi seorang penulis yang produktif.
Martin mengemukakan, antara penyair dan pastor ada kemiripannya. Baik penyair maupun pastor perlu banyak membaca. Keduanya punya pengalaman relegius. Seorang penyair menuangkan pengalaman religiusnya dalam karya seni dan mengkomunikasikan kepada publik. Seorang pastor menuangkan pengalaman religiusnya dalam bentuk homili dan mewartakannya kepada umat.
Acara ceramah ini, dari awal sampai akhir dilakukan dalam bahasa Inggris, karena sekaligus sebagai wadah pembelajaran bahasa Inggris bagi para siswa. Ceramah Martin didahului dengan sambutan dari Direktur Seminari, pembacaan riwayat hidup oleh mbak Doroethea, lalu dilanjutkan dengan pembacaan puisi. Setelah membacakan sebagian puisinya, Martin menceriterakan keterlibatannya dalam gerakan revolusioner melawan pemerintah Jerman Timur yang represif; kemudian berbagi kiat-kiat tentang menulis. Dalam bahasa Inggris seadanya, para seminaris menyampaikan macam-macam pertanyaan kepadanya, dan dijawab dengan bahasa Inggris yang mudah dimengerti. Dan setiap penanya, mendapat hadiah buku “Detik-detik Indonesia” dari Mbak Dorothea.



|
Saturday, November 22, 2008, 23:45 - NEWS / BERITA Posted by hadi
Hari Selasa sore, 18 Nopember 2008, di Seminari Mertoyudan diselenggarakan ceramah wawasan kebangsaan, dihadiri oleh warga komunitas Seminari. Judul ceramah adalah : �Strategi Pengembangan Wawasan Kebangsaan Berdasarkan Nilai Spiritualitas�. Ceramah diberikan oleh Rm. Mayor Yos Bintoro Pr. Read More...
|
Tuesday, November 18, 2008, 02:14 - BUKU TAMU / FAQ Posted by Marcell
Saya bukan anti dengan agama non Nasrani, tapi mengingat forum ini adalah forum bagi para mantan seminaris (dan tentunya yang tetap setia pada jalan imamat Yesus Kristus, baik khusus maupun umum, saya mohon agar siapa saja jangan sembarangan mengisi buku tamu, apa lagi jika isinya bisa mengadu domba dan mencari masalah. Mohon kiranya agar moderator menghapus entry dari Sdr. Fajar. Terima kasih. GBU.
|