Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
   
MENITI JEJAK PERADABAN CANDI-CANDI PENINGGALAN MATARAM KUNO 
Wednesday, November 26, 2008, 13:36 - SISWA Posted by hadi
Pada tanggal 14 Oktober 2008, Seminari Mertoyudan mendapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur (BKPB), Magelang. Acara tersebut bertemakan “Meniti Jejak Peradaban Candi-Candi Peninggalan Mataram Kuno”. Pihak sekolah mengirim dua siswa dan seorang guru. Dari kelas XI dipilih Fikalis Rendy (XI IPS), kelas X dipilih Christoporus Yudha (XC), dan didampingi oleh Bpk. Wahab Cahyono.Acara tersebut berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 18 Oktober dan Minggu, 19 Oktober 2008. Berikut ini laporan singkatnya.

Tepat pagi hari pada pukul 07.30 WIB kami tiba di kantor BPKB setelah diantarkan dengan mobil oleh Pak Darmono, sopir Seminari. Suasana masih sepi tetapi sudah ada beberapa siswa yang sudah hadir, yaitu dari SMA Candimulya dan SMAN I Ngluwar. Pada pukul 08.00 WIB sudah banyak siswa yang hadir dan melakukan registrasi. Dalam registrasi kami diberi perlengakapan mengunjungi candi dan juga souvenir dari BKPB. Adapun peserta yang ikut sebanyak 50 orang, terdiri dari siswa dan guru. Selanjutnya acara meniti jejak peradaban candi dibuka secara sederhana oleh Dinas Pendidikan dan Panitia. Ceramah dari Dr. Sumijati Atmosudiro tentang peninggalan menjadi pemanasan dan penambahan wawasan. Acara hari pertama diisi dengan perjalanan ke Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen.

Berikut ini beberapa informasi penting dari candi-candi yang kami kunjungi, antara lain:

1. Candi Borobudur

Kami sudah berkunjung ke Borobudur beberapa kali. Namun, berbeda dengan yang kami lakukan pada hari ini. Borobudur sungguh-sungguh merupakan simbol kebangkitan (awakening). Perjalanan pencerahan umat manusia yang digambarkan melalui kisah perjalanan pemuda yang bernama Sudhana. Kisahnya berakhir pada fragmen Bhadracari dimana Sumantabhadra memberi wejangan pada Sudhana. Proses penyempurnaan mencapai pencerahan tertinggi tentang kebenaran sejati (Paramita) diwujudkan dalam relief Lalistavistara, awadana, dan Jataka.

Dari hal itu, sangatlah sayang apabila kita hanya sekedar berkunjung saja tanpa membawa apa-apa yang bermakna. Dari sisi lain, fakta restorasi Borobudur yaitu:

a.Ditemukan pertama kali oleh Raffles pada tahun 1812 dalam kondisi penuh parah tertutup semak belukar.
b.Dilakukan pembersihan di bawah Cornelius pada tahun 1814 dengan 200 pekerja selama 2 bulan.
c.Tahun 1834, Residen Kedu ikut ambil bagian dalam pembersihan.
d.Tahun 1907-1911, Theodore Van Erp melakukan restorasi.
e.UNESCO (1973-1983) dan pemerintah Indonesia melakukan restorasi besar-besaran sehingga dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.
Candi Borobudur dibagi menjadi tiga tingakatan yaitu Kamadhatu (bawah), Rupadhatu (tengah), dan Arupadhatu (atas).

2. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen

Sebenarnya ketiga candi ini ditambah dengan Borobudur membentuk sebuah Mandala (lingkaran) yang mengitari Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen merupakan candi yang bercorak Budha. Candi Pawon termasuk salah saru candi Budha yang bentuknya ramping seperi candi Hindu. Candi Pawon juga sering di sebut sebagai Upa Angga (bagian dari candi Borobudur). Di masa lampau, candi Pawon merupakan tempat untuk penyimpanan abu sisa pembakaran jenasah Raja Indra. Letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah persimpangan antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Pawon sendiri cukup sering dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.

Candi Mendut berada di desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang. Candi Mendut letaknya menghadap ke barat sama dengan candi Pawon. Namun misteri itu belum dipecahkan sampai sekarang (mengapa sebuah candi selalu mengahadap ke barat?). Dalam ruangan atau ilik candi Mendut, kita bisa melihat dua arca yaitu arca Buddha Gkyamuni, arca Bodhisattwa Vajrapani, dan arca Bodhisattva Avalokitesvara.

Sementara itu di dusun Ngawen Muntilan terdapat Candi Ngawen. Candi Ngawen diapit oleh dua buah sungai yaitu kali Kebo (barat) dan Sungai Pabelan (timur). Lokasinya sendiri yaitu ada gugusan 5 buah candi yang masing-masing berbentuk bujur sangkar dari I – V.
Identifikasi kedua arca yang ada di candi Ngawen II dan IV adalah sebagai arca Pantheon Tathagata (=pan: seluruh dan theos: dewa).

3. Candi Prambanan

Candi ketiga ini kami kunjungi di hari terakhir perjalanan kami. Masing-masing candi cukup berbeda dengan bentuk candi yang kami kunjungi sebelumnya. Candi Prambanan terlihat besar menjangkar ke atas dengan puncak yang tinggi. Ada tiga bangunan candi yang penting di kompleks candi Prambanan yaitu candi Siva (Roro Jonggrang), candi Brahma, dan candi Wisnu. Sejak tragedi gempa jogja, 27 Mei 2006, ketiga candi penting itu justru tidak boleh dimasuki karena masih dianggap tidak aman bangunannya. Selain ketiga candi itu, ada pula candi Nandi, Andsa, dll. Candi-candi di kompleks candi Prambanan merupakan candi Hindhu terbesar di Pulau Jawa.

Perbaikan candi Prambanan tetap dilanjutkan terus menerus. Ketika kami berkunjung, ada dua candi yang sedang dalam perbaikan dan itu merupakan bukti bahwa candi Prambanan masih tetap diperhatikan.

Sementara itu di dekat candi Prambanan, berdiri tegak Candi Sewu. Candi Sewu terletak di dukuh Bener, Bugisan, Kecamatan Prambanan.
Candi Sewu termasuk candi yang berlatar belakang agama Bundha. Kompleksnya cukup luas dan di sekitar situlah kami beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya panorama pegunungan.

Candi Plaosan merupakan candi terakhir yang kami kunjungi. Candi Plaosan itu terletak di desa Plaosan, Yogyakarta. Candi Plaosan merupakan hasil akulturasi dari candi Hindu dan candi Budha. Bangunan yang di sekitar itu cukup besar dan banyak yang terpisah. Dan di situ pula hujan deras turun sehingga perjalanan kami hanya sedikit menelusuri candi Plaosan.

Nah, setelah berkeliling-keliling dan meniti jejak peradaban candi-candi peninggalan Mataram kuno, kami mengakhiri acara tersebut dengan penutupan di BKPB. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Oleh: Fikalis Rendy A. dan Christoporus Yudha




Nama Paraban. Tanda keakraban VS Pembunuh Karakter  
Thursday, October 2, 2008, 14:07 - SISWA Posted by hadi
Dalam kehidupan bersama di asrama, khususnya di Seminari Mertoyudan, pemberian nama paraban sepertinya telah membudaya. Sebagian besar siswa punya nama paraban. Nama paraban itu diberikan oleh anggota komunitas terhadap seseorang. Sikap orang terhadap nama paraban itu berbeda-beda. Ada yang menerimanya dengan senang hati, ada yang terpaksa menerimanya karena merasa tidak berdaya untuk menolaknya. Adanya nama paraban ini senyatanya menimbulkan pro kontra. Karena di satu sisi, nama paraban itu menjadi ungkapan keakraban dan mampu menumbuhkan keakraban dalam hidup bersama. Tapi di sisi lain, nama paraban yang tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan, bisa menjadi bentuk “pembunuhan karakter”.

Mengingat pemberian nama paraban telah menjadi “trend” di Seminari, pada sidang Akademi pada tgl. 8 September 2008, Kelompok Sidang Akademi St. Albertus Agung Gol. A menggelar debat sistem Parlemen Australia dengan tema : ” Paraban di mata Seminaris”. Debat berlangsung sangat seru. Masing-masing kelompok, Tim Afirmatif dan Tim Negatif, saling beradu argumen untuk memenangkan pendapatnya. Dalam laporan berikut disampaikan beberapa buah pikiran yang sempat muncul dalam perdebatan tersebut.

Keakraban dan kebersaman

Atas dasar kebersamaan yang tinggi dan pengenalan tiap individu secara lebih konkret, sejumlah nama-nama baru, yang lebih populer disebut nama paraban, bermunculan di komunitas. Dalam hal ini, ada sejumlah warga komunitas yang mendukung dan ada pula yang menolak keberadaan nama paraban dalam komunitas. Alasan yang sangat sederhana yaitu demi mewujudkan kearaban dalam kelompok. Sejumlah pihak yang mendukung mengatakan bahwa keakraban semakin terjalin salah satunya melalui nama paraban. Nama-nama yang diberikan pada tiap individu amat beragam dan cukup unik, entah karena perilakunya yang kerap kali berbeda dengan kawannya yang lain, entah karena bentuk fisiknya, asalnya, hingga nama orang tua.

Selain untuk menjalin keakraban, nama paraban dinilai mampu memperkuat eksistensi seseorang di dalam komunitasnya. Nama-nama ini digunakan dalam pergaulan sehari hari, dengan tidak menutup kemungkinan adanya pemanggilan nama paraban di dalam forum resmi secara tidak sengaja. Nama yang berawal dari sapaan ringan dan kecil dalam kehidupan bersama, menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Kebiasaan memanggil dengan nama paraban itu tidak berhenti ketika di Seminari Mertoyudan, tapi berlanjut ketika strudi di Filsafat dan Teologi, bahkan setelah menjadi Romo. Celakanya, karena terlalu biasa dipanggil dengan nama paraban terkadang nama resminya sendiri sering tidak dikenal/terlupan.

Penghambat pembentukan karakter

Tetapi, yang perlu kita cermati bersama adalah bagaimana kondisi kejiwaan atau mental seseorang yang diberi nama julukan (paraban). Terlebih nama yang menyangkut kelemahan yang ada pada dirinya cenderung memojokkan dan menyudutkan dia. Perasaan sakit hati, merasa tidak dihargai atau direndahkan oleh orang lain, merupakan sejumlah akumulasi akibat yang ditimbulkan dengan adanya nama paraban ini. Perendahan yang dimaksud adalah kurang atau bahkan tidak adanya sikap saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain. Hal ini terungkap dalam pemanggilan nama seseorang dengan tidak semestinya. Pemberian nama paraban ini tidaklah mengganti nama yang sebenarnya; tetapi sadar atau tidak, pemberian nama paraban seakan “menutup” nama yang sesungguhnya.

Pemberian nama paraban seperti itu bisa membuat mental seseorang menjadi down. Lebih tragis lagi, bisa menghambat bahkan membunuh karakter seseorang. Masalahnya, bagaimana dirinya bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik apabila ia mengalami luka batin yang cukup mendalam di komunitasnya. Komunitas yang diharapkan menjadi tempat bernaung yang menyejukkan, menjadi komunitas penghancur. Secara tidak langsung, akibat yang ditimbulkan ini dapat berpengaruh pada terhambatnya proses pembentukan karakter seseorang.

Problem paradoksal dan rasa penghargaan

Nama paraban sebenarnya merupakan problem cukup paradoksal dalam sebuah komunitas. Di satu sisi, penggunaan nama paraban makin mendekatkan, mengakrabkan dan mendobrak eksistensi seseorang di dalam komunitas; tetapi di lain pihak penggunaan nama paraban mampu merendahkan atau bahkan menjatuhkan mental seseorang yang akan berujung pada terhambatnya proses pembentukan karakter dalam diri seseorang. Selain itu, nama paraban yang ada mampu menunjukkan citra sebuah komunitas, citra yang terbangun melalui kehidupan komunitas sehari-hari.

Penyebutan nama paraban ini sebenarnya bukanlah perkara yang amat luar biasa melainkan hal kecil dan sederhana namun mampu “menjatuhkan” seseorang secara perlahan. Kesadaran untuk meninggalkan budaya ini terbentuk ketika setiap warga komunitas memiliki kemauan untuk saling menghargai. Memanggil nama orang sebagaimana mestinya, merupakan salah satu bentuk nyata tanda penghargaan terhadap orang lain.

Mertoyudan, 27 September 2008

Benedictus Seprinanda Sudarto


Saatnya Remaja Bangkit Menulis 
Thursday, September 4, 2008, 03:40 - SISWA Posted by hadi
Pada hari Minggu, 31 Agustus 2008 yang lalu, Seminari Mertoyudan menjadi tuan rumah penyelenggaraan kursus tulis menulis. Kursus ini diikuti oleh siswa-siswi dari SMA Tarakanita Magelang, SMA Sedes Sapientiae Bedono, SMA PL. Van Lith Muntilan, dan SMA Seminari Mertoyudan (Kelas XII dan KPA). Mereka bersama berkumpul untuk mendengarkan instruksi latihan tulis menulis di ruang rekreasi Medan Utama.

Acara yang diseponsori oleh Penerbit-Percetakan Kanisius Yogyakarta tersebut bertujuan untuk mengembangkan dan menyalurkan potensi menulis dalam diri remaja, khususnya remaja katolik di Jawa tengah. Acara yang dimulai pada pukul 09.00 ini diisi dengan ceramah yang intinya mendorong semangat remaja untuk menulis. Pembicaranya ada tiga orang, yaitu: Bpk. I. Puja Raharja, Rm. A. Setyodarmono. SJ dan Bpk. Subagyo. Lewat tiga pembicara tersebut, para siswa dari Van Lith, Sedes, Tarakanita dan khususnya Seminari, sangat tertantang untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi perkembangan remaja lainnya.

Secara keseluruhan, acara itu dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pada bagian pertama, Bpk. Puja Raharja mengungkapkan keprihatinan pada masa sekarang , yaitu adanya penurunan minat menulis dalam kalangan ramaja. Pada bagian kedua, Rm. Setyodarmono memberikan bentuk harapan Gereja pada kawula muda khususnya dalam bidang menulis. Pada bagian ini pula Bapak. Puja bersama Rm. Setyodarmono menantang kami sebagai siswa dari sekolah katolik untuk menulis dan berani mempublikasikan tulisannya lewat media massa. Setelah itu ada break sebentar, pada bagian ketiga pihak Kanisius menyampaian tawaran kepada para siswa untuk menulis tema-tema pokok tentang remaja/kaum muda.

Acara ini sangat bagus terutama sebagai wadah untuk latihan menulis bagi para remaja. Sebagai sponsor, pihak Kanisius juga telah mengobarkan semangat menulis dalam diri remaja khususnya para peserta yang hadir pada acara hari ini. Maka dari itu, semoga dengan adanya acara ini, para remaja khususnya peserta yang hadir dapat mengoptimalkan kesempatan emas yang diberikan Kanisius ini dengan menyalurkan bakat menulisnya demi perkembangan para remaja, bangsa, negara dan Gereja Indonesia. (Bk MU’s Com)




 
Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 9/September/2010 Time 16:1