Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
 
ARAH PENGAJARAN/PENDIDIKAN T.P. 2009/2010 
Friday, July 17, 2009, 16:33 - AKADEMIK Posted by hadi
ARAH PENGAJARAN/PENDIDIKAN SEMINARI MERTOYUDAN
TAHUN PELAJARAN 2009/2010

“MAJU, BERKARAKTER DAN CAKAP BERKOMUNIKASI”


PENGANTAR

Pada kesempatan rapat kerja pada tanggal 18 Juni 2009, Seminari Mertoyudan mengundang dua narasumber guna memberi masukan untuk pengembangan Seminari ke depan. Masukan pertama dari Rm. DR. Paul Suparno SJ, mantan Rektor Universitas Sanata Dharma (USD), Yogyakarta. Rm. Paul memberi masukan dengan judul : “Seminari di tengah tantangan pendidikan global, mau menekankan apa”? Masukan tersebut bersifat meneguhkan atas apa yang telah diusahakan selama ini , dan sekaligus memberi arah untuk pengembangan ke depan. Apa yang telah disampaikan oleh Direktur pada tahun pelajaran yang lalu dengan topik : “Seminary: The Moving School” mendapat peneguhan untuk dilanjutkan dan dikembangkan.
Masukan kedua dari Rm. J. Subagya SJ, mantan dosen USD, berjudul: “Pendidikan Kristiani dan PPR”. Rm. Subagya telah lama menggeluti dan mendampingi para guru dalam mengaplikasikan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) , baik di kolese-kolese Jesuit maupun sekolah-sekolah Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Masukan tersebut memberi penyegaran sekaligus model yang lebih konkret bagi para pengajar Seminari untuk mengetrapkan PPR dalam kegiatan pembelajaran. Kalau dirancang dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, model pembelajaran tersebut akan mendukung terwujudnya pembelajaran lebih bermakna dan relevan untuk kehidupan.

BERSEMANGAT MAJU DAN “MAGIS”

Pada awal tahun pelajaran yang lalu, telah dikemukakan tentang munculnya sekolah unggulan dan Sekolah Berwawasan Internasional (SBI). Jumlah sekolah seperti itu semakin banyak didirikan di tanah air, dengan dukungan finansial dari Pemerintah maupun para pengusaha. Pendirian SBI atau sekolah unggulan tersebut untuk menyongsong era globalisasi yang ditandai oleh ketatnya persaingan dalam segala bidang. Dengan mengemukakan hal tersebut, bukan maksudnya kita hendak menjadikan Seminari sebagai sekolah bertaraf internasional. Karena ditinjau dari input siswa, ketersediaan sarana prasarana maupun visi-misinya, tidak mungkin Seminari dikembangkan ke arah sana. Maksud di balik itu adalah mengajak kita untuk sadar dan mau belajar unsur-unsur positip dari sekolah-sekolah tersebut, antara lain semangat juang mereka untuk meraih prestasi dan mencapai keunggulan.
Kita memang perlu realistis, namun Seminari juga tidak ingin membiarkan tumbuhnya semangat minimalis di antara para siswa. Bertolak dari situasi dan kondisi yang ada, kita semua perlu bekerja keras, berdaya juang tinggi, bersemangat “lebih” (magis) agar bisa meraih hasil yang optimal. Masing-masing siswa diharapkan dapat berkembang sesuai potensinya. Kalau pun tidak bisa mencapai keunggulan dalam bidang akademik, mengembangkan keunggulan dalam bidang lain. Intinya kita perlu menghayati spiritualitas “magis” (lebih) dan bersemangat maju guna meraih prestasi sesuai potensi masing-masing, dan tidak mudah puas diri atas apa yang telah dicapai. Dalam hal ini, staf pendidik/pengajar hendaknya menjadi provokator dan motivator utama bagi kemajuan siswa.

HAL-HAL YANG DIUNGGULKAN/DITEKANKAN

Selama ini ada dua aspek yang dipilih untuk ditekankan/diunggulkan di Seminari, yaitu “character building” dan kecakapan berhasa Inggris. Dua pilihan tersebut mendapat peneguhan dan pencerahan lebih jauh dari masukan dari Rm. Paul Suparno.
1.Terkait dengan “character building” Rm. Paul memberikan rincian lebih konkret pribadi macam apa yang diperlukan untuk menjadi imam ke depan. Menurut Rm. Paul, calon imam mendatang diharapkan merupakan pribadi dengan karakter tinggi, terbuka pada jaman, pribadi yang unggul dalam semangat, tahan banting, tidak cengeng, gigih, dan berani berjuang.
2.Terkait dengan bahasa Inggris, Rm. Paul mengatakan bahwa bahasa Inggris merupakan tuntutan yang tidak boleh ditawar-tawar lagi; tuntutannya adalah dapat ngomong/berbicara maupun menulis. Kecuali bahasa Inggris, yang perlu ditekankan dalam pendidikan di Seminari adalah bahasa Indonesia dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Di era globalisasi, ketiga kompetensi tersebut harus dikuasai, juga oleh para calon imam.
Bertolak dari hal tersebut di atas pada tahun pelajaran 2009/2010 Seminari Mertoyudan akan tetap menekankan “character building” untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang unggul. Dalam bidang pelajaran, yang diunggulkan adalah pelajaran bahasa Inggris, Indonesia dan Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK). Ketiga mata pelajaran tersebut perlu dikuasai secara aktif. Tentu saja penekanan pada pelajaran tersebut tidak dengan mengesampingkan pelajaran yang lain. Pelajaran-pelajaran lain tetap penting dan diperlukan, karena masing-masing punya sumbangan sendiri untuk pengembangan siswa.

PEMBELAJARAN YANG BERMAKNA DAN BERMANFAAT

Kegiatan pembelajaran kita laksanakan bukan terutama dengan tujuan untuk pemindahan (transfter) dan pengembangan pengetahuan, tetapi terutama dalam rangka dan untuk pendidikan. Inti pendidikan adalah perubahan ke arah lebih baik. Pendidikan merupakan kegiatan mengawal dan mendampingi generasi muda dalam pertumbuhannya, agar bisa berkembang menjadi pribadi manusia yang baik. Terkait dengan hal tersebut, pembelajaran baik di lingkup sekolah maupun di luar sekolah (asrama) diharapkan menyumbang demi perubahan siswa ke arah yang kehidupan lebih baik tersebut.
Maka semestinya kegiatan pembelajaran tidak boleh mengasingkan, tetapi justru harus mendekatkan kita dengan kehidupan itu sendiri. Pengetahuan yang kita pelajari bukan sekedar untuk kita miliki, tetapi diharapkan punya fungsi untuk kehidupan kita. Pengetahuan tersebut diharapkan bermakna, bermanfaat dan punya relevansi bagi kehidupan. Tentu saja yang dimaksud di sini bukan hanya berfungsi untuk hidup sekarang (jangka pendek), tetapi juga untuk hidup yang akan datang. Dari sini menjadi jelas, pengetahuan apa yang kiranya perlu dipelajari dan yang tidak perlu dipelajari. Pada hakikatnya semua pengetahuan yang mampu membimbing ke arah kehidupan yang lebih baik dan sesuai dengan arah panggilan harus kita pelajari, sedangkan pengetahuan yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan panggilan tidak perlu dipelajari.
Menjadi tugas dan tanggungjawab pengajar untuk mengusahakan agar materi pembelajaran yang diberikan punya makna dan bermanfaat bagi siswa. Berdasar asas manfaat, bila dimungkinkan, setiap pengajar juga perlu memilih materi mana yang perlu diberikan dan mana yang tidak perlu diberi kepada siswa. Kecuali itu para siswa sendiri harus selalu bertanya, makna dan manfaat apa yang bisa dipetik atas materi pelajaran yang diberikan oleh pengajar. Di sinilah letak pentingnya refleksi. Refleksi bukan hanya bersangkut paut dengan perkara-perkara rohani, tetapi juga materi pelajaran. Bila kegiatan pembelajaran senantiasa kita laksanakan berdasarkan asas manfaat dan direfleksikan, kita akan terbantu dalam menemukan makna dan fungsi pembelajaran untuk kehidupan sehari-hari. Dan kalau kita sadar dan tahu akan manfaat dari kegiatan pembelajaran, minat untuk belajar akan bertumbuh dan motivasi untuk mencapai keunggulan akan muncul.

PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF (PPR)

Terdapat aneka macam model yang bisa dipergunakan oleh para pengajar dalam kegiatan pembelajaran. Para pengajar diharapkan mempergunakan model pembelajaran yang bervareasi sesuai materi yang hendak disampaikan, supaya pembelajaran bisa menarik. Di sini akan ditawarkan alternatif model pembelajaran yang dikenal dengan sebutan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR). Model pembelajaran ini amat relevan diterapkan di Seminari sebagai lembaga pendidikan calon-calon imam yang hendak mendampingi para siswa agar berkembang secara utuh.
Model pembelajaran tersebut, bagi kebanyakan guru Seminari yang pernah mengikuti lokakarya Paradigma Pedagogi Ignatian (PPI), bukanlah hal yang baru. Karena dalam lokakarya tersebut telah ditekankan perlunya mengetrapkan PPI dalam kegiatan pembelajaran. Sementara guru Seminari sudah ada yang secara terencana berusaha mempraktikkannya, meski baru secara parsial. Pada intinya, PPI/PPR meliputi 5 aspek, yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi. Kelima aspek itu perlu dijabarkan dalam rencana pembelajaran, kemudian dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran.
Singkatnya, sesuai dinamika PPR, pembelajaran perlu dirancang dan dilaksanakan dengan (a) memperhatikan konteks siswa (akademis, spiritual, psikis, fisik, budaya, ekonomis, dll.) ; (b) mengajak siswa masuk ke dalam pengalaman belajar, baik langsung maupun tidak langsung. Belajar di sini bukan hanya menyangkut aktivitas otak atau pikiran (kognitif), tetapi juga melibatkan seluruh pribadi, perasaan, dan kemauan (afektif). Belajar perlu melibatkan dimensi afektif dengan mencoba merasakan dan mengalami kebenaran yang diperolehnya; (c) mengajak siswa berefleksi untuk menemukan maksud, tujuan, nilai, makna, dan manfaat dari pengalaman belajar. Refleksi ini amat penting karena akan meningkatkan perkembangan dalam bidang emosi, pengetahuan, rasa sosial, kerohanian, dsb. ; (d) melaksanakan apa yang disadari dalam refleksi sebagai baik, benar, dan bermanfaat dalam perbuatan nyata. Aksi menunjukkan pertumbuhan batin seorang siswa berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan, kemudian dimanifestasikan secara lahiriah dalam perbuatan; (e) melaksanakan evaluasi (tes) untuk mengukur/melihat keberhasilan akademis siswa dalam belajar. Kecuali bidang akademik, yang perlu dievaluasi adalah perkembangan kepribadian siswa.
Terkait dengan praksis pembelajaran bisa ditambahkan di sini, akan membantu bila dipergunakan metode “cooperative learning” ( teknik jigsaw), diskusi dan presentasi yang mampu mendukung pengembangan kecakapan berkomunikasi dan berpikir logis.
Dalam dinamika PPR, refleksi memegang peranan amat penting. Tidak ada suatu pertumbuhan atau perkembangan tanpa refleksi. Tetapi refleksi saja belum cukup. Karena dalam refleksi, kita baru sampai kesadaran batin tentang nilai : baik-buruk, benar-salah dan berguna-tidak berguna. Refleksi itu harus ditindaklanjuti dengan aksi, yaitu usaha untuk sungguh-sungguh melaksanakan dalam perbuatan/tindakan nyata apa yang disadari sebagai baik dan bermanfaat. Refleksi tanpa dibarengi oleh aksi, akan mandul dan tidak membawa perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Kalau dipersiapkan dengan matang dan kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, pembelajaran berpola PPR akan menjadi pembelajaran penuh makna dan bermanfaat sebagai pemandu ke arah hidup yang lebih baik.

FOKUS PERHATIAN DAN ARAH KE DEPAN

1.Dalam bidang kepribadian, fokus perhatian diberikan pada usaha untuk mengembangkan siswa menjadi pribadi dengan karakter yang kuat, punya semangat juang yang tinggi, tahan banting, tidak mudah menyerah, dan terus ingin maju.
2.Dalam bidang mata pelajaran, yang lebih ditekankan/diunggulkan adalah pelajaran bahasa Inggris, Indonesia, dan Teknologi Komunikasi dan Informasi (TIK). Lewat pembelajaran itu, diharapkan siswa terbantu untuk semakin cakap dalam berbahasa/berkomunikasi baik lisan maupun tertulis, dan mampu berpikir secara logis. Hal ini perlu didukung dengan Sidang Akademi dan kegiatan tulis menulis yang perlu lebih diberdayakan dan dioptimalkan peranannya.
3.Dalam bidang pembelajaran, yang ditekankan adalah pembelajaran yang membantu siswa untuk menemukan makna dan manfaat dari apa yang dipelajari sehingga pengetahuan yang didapat punya fungsi untuk kehidupan nyata. Dalam kaitan ini, model pembelajaran yang dianjurkan adalah model Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR), dengan mengedepankan pentingnya aspek refleksi dan aksi dalam pelaksanaan pembelajaran.
4.Dalam bidang moral-spiritual, nilai yang ditekankan dan hendaknya menjiwai baik siswa maupun staf pengajar/pendidik adalah nilai kesungguhan dan nilai “lebih” (magis) dalam melaksanakan apa pun. Semuanya ditujukan “demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan” (AMDG), sehingga hasil yang dicapai bisa optimal.
5.Dalam bidang sarana prasarana, usaha yang telah dimulai untuk menata dan melengkapi ruang kelas, kantor persekolahan, dan sarana pendukung lainnya, perlu dilanjutkan.
6.Dalam bidang kerjasama, perlu dibangun kerjasama yang semakin sinergis antara sekolah dan asrama, dengan saling mengkomunikasikan kegiatan masing-masing terkait dengan siswa.

PENUTUP
Demikian arah pengajaran/pendidikan tahun pelajaran 2009/2010 yang perlu kita perhatikan bersama. Banyak hal yang dipaparkan di atas masih bersifat umum, dan perlu ditindaklanjuti serta dijabarkan dalam berbagai program kegiatan, baik di lingkup sekolah maupun asrama. Semoga arah pengajaran/pendidikan tersebut memacu kita semua untuk terus memajukan Seminari, melaksanakan pembelajaran yang bermakna untuk kehidupan, serta bersama-sama mengusahakan agar para siswa punya karakter kokoh, cakap berkomunikasi baik lisan maupun tertulis, dengan mengunggulkan pelajaran bahasa Inggris, Indonesia, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Mertoyudan, 14 Juli 2009
Direktur SMA Seminari Mertoyudan


Martinus Hadisiswoyo, SJ









AGENDA KEGIATAN AKADEMIK T.P. 2009/2010 
Friday, July 17, 2009, 15:18 - AKADEMIK Posted by hadi
AGENDA KEGIATAN AKADEMIK
SMA SEMINARI MERTOYUDAN
Semester I,T.P.2009/2010


JULI 2009
1.Sabtu, 11 Juli : Staf: Rapat persiapan tahun pelajaran baru.
2.Senin, 13 Juli : Staf: penyusunan program; pengambilan buku,
MOS.
3.Selasa, 14 Juli : Misa pembukaan T.P. 2009/2010, lectio brevis
: MOS KPP dan KPA s.d. 16 Juli.
4.Rabu, 15 Juli : Kelas XII mulai pelajaran. Kelas X: Orientasi Kurikulum. Kelas XI:Metodologi penelitian ilmiah.
5.Kamis, 16 Juli : Kelas X dan XI mulai pelajaran;
KPP dan KPA ambil buku.
: Pk. 17.00 : Pertemuan moderator dengan pengurus SA.
6.Jumat, 17 Juli : KPP dan KPA mulai pelajaran.
7.Senin, 20 Juli : Hari Libur Isra Miraj.
8.Senin, 27 Juli : Sidang Akademi perdana.
9.Jumat, 31 Juli : Peringatan St. Ignatius dari Loyola.

AGUSTUS 2009
1.Jumat, 7 Agustus : Acara staf: Pendalaman nilai kesungguhan
2.Senin,17 Agustus : Upacara bendera HUT RI.
3.Sabtu, 22 Agustus: Hari libur permulaan Puasa.

SEPTEMBER 2009
1.Rabu, 9 September: Acara staf: Pembelajaran dengan pola PPR.
2.Jumat,18-23 Sept.: Libur hari raya Indulfitri.
3.Kamis, 24 Sept. : Hari belajar persiapan tes.
4.Jumat,25Sept-3Okt: Tes tengah semester
ganjil.

OKTOBER 2009
1.Senin, 5-7 Okt. : Kesempatan tes ulang/her.
2.Kamis, 8 Oktober : Penerimaan hasil Tes Tengah Semester
3.Kamis,8–12 Okt. : Kegiatan homestay (kelas X), live in (kls
XII),karya tulis dan studi lapangan (kls XI).
4.Kamis,8-9 Okt. : Acara staf: Studi banding.
5.Sabtu,10–11 Okt. : Rekoleksi bagi guru-karyawan.
6.Selasa, 13 Okt. : Mulai pelajaran.
7.Minggu,18–21Okt. : Retret kelas X.
8.Rabu, 28 Okt. : Upacara bendera hari Sumpah Pemuda

NOPEMBER 2009
1.Sabtu, 7 Nop. : Studi lapangan bagi kelas X.
2.Selasa,10 Nop. : Upacara bendera Hari Pahlawan.
3.Selasa,16-19 Nop.: Retret Kelas XII dan KPA
4.Sabtu, 21 Nop. : Acara staf: Pengembangan budaya membaca dan belajar.
5.Jumat, 27 Nop. : Libur hari raya Idul Adha 1430 H

DESEMBER 2009
1.Rabu, 2 Desember : Hari belajar persiapan TPM.
2.Kamis, 3– 2 Des. : TPM semester ganjil.
3.Senin,14–17 Des.: Kursus Jurnalistik
4.Jumat,18 Desember: Libur hari raya 1 Muharram 1430 H
5.Selasa,22 Des. : Penerimaan Rapor (LHBS).
6.Rabu,23 Des-2 Jan: Libur:Natal, semesteran dan Tahun Baru 2010.



AGENDA KEGIATAN AKADEMIK
SMA SEMINARI MERTOYUDAN
Semester II,T.P.2009/2010

JANUARI 2010
1.Senin, 4 Januari : Acara Staf: Evaluasi Smt. I;
agenda Smt. II, pelantikan OSIS.
2.Selasa, 5 Januari : Mulai pelajaran semester II.
3.Kamis, 7 Januari : Pk. 17.00: Pertemuan pengurus dengan
moderator Sidang Akademi.
4.Senin, 11 Januari : Sidang Akademi: penyusunan program
Semester II

FEBRUARI 2010
1.Selasa, 9 Februari : Acara staf: Pengembangan kecakapan
komunikasi.
2.Senin, 15 Februari : Perkiraan Libur Hari Raya Nyepi
3.Kamis,25 – 28 Februari: Tes penerimaan seminaris baru
( Gelombang I)
4.Sabtu, 27 Februari : Perkiraan libur hari raya Maulid
Nabi Muhmmad SAW

MARET 2010
1.Senin, 1 – 5 Maret : Retret Kelas XI
2.Selasa, 16 Maret : Hari Belajar
3.Rabu, 17 – 25 Mrt. : Tes Tengah Semester Ganjil
4.Jumat, 26 – 29 Maret : Kesempatan tes ulang/her.
5.Selasa, 30 Maret : Penerimaan Rapor Tengah Semester
6.Rabu, 31 Mrt- 5 April : Libur pekan suci dan hari raya Paskah

APRIL 2010
1.Selasa, 6 April : Mulai pelajaran seperti biasa.
2.Rabu, 14 April : Acara staf: Refleksi sinergi antara
sekolah dan asrama.
3.Kamis, 15 April : Hari terakhir penyerahan karya tulis
kelas XI.
4.Senin, 19 – 23 April : Perkiraan pelaksanaan Ujian Nasional
5.Selasa, 27 April : Libur, peringatan Santo Petrus Canisius
6.Rabu, 28 April – 4 Mei: Perkiraan Ujian Sekolah

MEI 2010
1.Senin, 10 – 17 Mei : Perkiraan Ujian Praktik
2.Kamis, 13 Mei : Libur Kenaikan Tuhan Yesus.
3.Sabtu, 15 Mei : Acara Staf: Diskresi dan pengambilan
keputusan.
4.Rabu, 19 Mei : Hari belajar untuk KPA
5.Kamis, 20 Mei : Upacara Hari Kebangkitan Nasional.
6.Kamis, 20 – 29 Mei : TPM semester genap KPA
7.Jumat, 28 Mei : Libur hari raya Waisak
8.Jumat, 28 30 Mei : Tes penerimaan seminaris baru
(gelombang II)

JUNI 2010
1.Selasa, 1 Juni : Hari belajar persiapan TPM
2.Rabu, 2 – 10 Juni : TPM semester genap
3.Jumat, 11 – 13 Juni : “English Action Days” bagi siswa.
4.Selasa, 15 Juni : Pembekalan penyusunan karya tulis
bagi kelas X.
5 Rabu, 16 Juni : Acara Staf: Rapat kenaikan kelas.
6 Sabtu, 19 Juni : Misa penutup, penerimaan Laporan Hasil
Belajar Siswa.
7.Senin, 21 – 22 Juni : Staf intern : Rapat evaluasi
Guru dan TU : Persiapan evaluasi dan
penyusunan program.
8.Senin,21 Juni -10 Juli: Libur Akhir Tahun Pelajaran 2009/2010.
9.Rabu, 23 Juni : Rapat evaluasi Sekolah
10.Kamis, 24 – 25 : Rapat kerja, penyusunan program
11.Minggu, 27 – 30 Juni : Retret untuk guru dan karyawan TU.

JULI 2010
1.Sabtu, 10 Juli : Staf: Rapat persiapan T.P. baru.
2.Senin, 12 Juli : Staf: Rapat pemantapan program
T.P. 2010/2011.
3.Selasa, 13 Juli : Misa pembukaan T.P. 2010/2011 ;
Lectio Brevis.

Mertoyudan, 12 September 2009

PEMBERANTASAN BUDAYA NYONTEK DI SEMINARI MERTOYUDAN 
Wednesday, April 15, 2009, 14:59 - AKADEMIK Posted by hadi



Menyontek sudah menjadi budaya di kebanyakan sekolah di negeri ini. Tidak terkecuali di sekolah-sekolah katolik. Penyontekan terjadi tidak hanya pada saat ulangan harian, tes tengah semester dan akhir semester. Bukan rahasia lagi, pada saat Ujian Nasional yang diawasi secara ketat pun, penyontekan masih terjadi di mana-mana. Amat disayangkan apabila ada guru yang justru ikut terlibat dalam kasus perbuatan curang tersebut, sekalipun dengan alasan yang nampak suci, yaitu membantu anak didik !

Betapa menyontek itu sudah membudaya, berikut ini ilustrasiya. Pada tanggal 6 9 Maret 2009, Seminari Menengah Mertoyudan melakukan serangkaian tes dalam rangka Penerimaan Seminaris Baru (PSB). Ada 139 calon dari SMP yang mengikuti tes tertulis. Tes tertulis tersebut meliputi tes dari Seminari ( Matematika, Bhs. Inggris dan Bhs. Indonesia) dan dari Universitas Sanata Dharma (Tes Potensi Akademik). Ternyata pada saat tes berlangsung, dijumpai adanya 11 calon yang melakukan penyontekan atau bekerjasama dalam mengerjakan soal.

Sebenarnya tes tertulis sudah dilaksanakan di tempat terbuka (aula) dengan penjagaan yang cukup ketat. Harapannya, tidak ada siswa yang tergoda menyontek. Namun toh masih ada 11 calon yang tergoda dan berani menyotek. Ke - 11 calon tersebut pasti sudah terbiasa melakukan penyontekan di sekolahnya. Bisa diduga tentu lebih dari 11 siswa yang biasa menyontek di sekolahnya, tapi mungkin hanya 11 siswa yang cukup memiliki nyali melakukan pada waktu tes di Seminari. Amat disayangkan, mengapa kebiasaan tidak terpuji itu dibawa juga ketika menjalani tes untuk masuk Seminari? Padahal mereka tahu, Seminari yang hendak mereka masuki adalah lembaga pendidikan khusus yang mempersiapkan para siswa untuk menjadi calon-calon imam. Memprihatinkan ? Ya sungguh memprihatinkan !

Kami, staf Seminari, memang tidak bisa serta merta menyalahkan ke-11 siswa tersebut. Karena mereka itu adalah produk SMP asal. Memang banyak sekolah (guru) tidak tegas, atau cenderung membiarkan siswa-siswanya melakukan penyontekan pada waktu ulangan. Penyontekan dianggap bukan sebagai pelanggaran serius. Dan tidak ada sanksi yang tegas. Akibatnya menyontek menjadi budaya di antara para siswa. Biasanya budaya nyontek atau praktek tindak tidak jujur seperti itu tidak berhenti setelah siswa lulus SMA, tapi dilanjutkan di Perguruan Tinggi. Pada gilirannya, kalau mereka sudah menyelesaikan pendidikan dan bekerja, bibit-bibit tidak jujur akan akan berkembang ke arah tindakan kriminal dengan melakukan korupsi atau tindak curang yang lain. Tindak korupsi yang merajalela di Indonesia kiranya punya akarnya pada budaya nyontek yang dibiarkan bertumbuh di sekolah-sekolah. Maka sesungguhnya, sekolah yang membiarkan siswanya nyontek, jelas mengambil andil bagi maraknya korupsi di Indonesia tersebut.

Mengingat budaya nyontek bisa membawa efek yang merugikan bagi perkembangan pribadi siswa sendiri, bagi sekolah, maupun bagi bangsa karena dari situlah budaya korupsi berakar, kebiasaan tidak terpuji tersebut semestinya diperangi, dan tidak boleh bertumbuh di lembaga pendidikan mana pun, apalagi di sekolah-sekolah Katolik. Di balik budaya menyontek tersebut jelas bercokol sikap malas dan mentalitas ingin mendapat hasil dengan tanpa mau kerja keras. Ditinjau dari segi iman, menyontek juga merupakan tindakan tidak kristiani, yang tidak selaras dengan semangat Tuhan Yesus. Tuhan sendiri telah mengajarkan dan memberi teladan agar kita berani berjerih payah, mengerasi/menyangkal diri, dan bila perlu memanggul salib untuk dapat mencapai keberhasilan (kebahagiaan).

Seminari Mertoyudan sebagai lembaga pendidikan calon-calon imam sejak dulu dan seterusnya akan tetap mengedepankan penghayatan nilai kejujuran. Apalagi Seminari telah berketetapan hati untuk mendidik para siswa menjadi probadi-pribadi yang unggul dalam karakter. Itulah sebabnya kejujuran ditetapkan sebagai salah satu core value (nilai dasar) yang sangat dijunjung tinggi di Seminari, disertai sanksi tegas bagi pelanggarnya. Hal ini sudah dicantumkan dalam buku Pedoman Pembinaan Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan (hlm.15, 68-69). Kejujuran menjadi aspek penting dan bagian integral dari Sanctitas (Kesucian) yang hendak ditumbuh kembangkan di Seminari. Kejujuran adalah wujud konkret dari kesucian. Kesucian tanpa dilandasi kejujuran adalah omong kosong. Atas dasar hal tersebut, staf Seminari terus berusaha melakukan pembinaan, baik lewat jalur Sekolah maupun asrama, supaya nilai kejujuran semakin terinternalisasi/terbatinkan dalam diri siswa/seminaris.

Pembinaan tersebut dilakukan secara berkesinambungan.
Pertama-tama, pembinaan awal dilakukan pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS). Pada kesempatan ini para siswa diajak mendalami nilai-nilai yang dijunjung tinggi di Seminari, termasuk nilai kejujuran beserta sanksi bagi mereka yang melakukan pelanggaran. Yang kedua, pada setiap menjelang Tes Tengah Semester maupun Akhir Semester, diingatkan sanksi bagi siswa yang melakukan penyontekan. Yang ketiga, kalau ada siswa yang ketahuan melakukan penyontekan pada waktu ulangan, langsung diproses, ditindaklanjuti, dan dikenai sanksi. Lebih dari itu, di sela-sela waktu tersebut, para pamong, wali kelas maupun guru senantiasa mengingatkan siswa supaya bertindak jujur waktu ulangan. Semua itu dilakukan dalam rangka menumbuhkan dan menanamkan kesadaran tentang kejujuran dalam diri para siswa.

Seminari Mertoyudan senantiasa mengambil sikap tegas terhadap kasus penyontekan. Namun Staf Seminari masih memiliki toleransi bagi siswa KPP (Kelas Persiapan Pertama) yang bertindak lalai dengan menyontek. Karena kami tahu, banyak dari mereka itu berasal dari SMP yang kurang mendapat pembinaan tentang kejujuran, atau bahkan berada di lingkungan sekolah yang berbudaya nyontek. Kami tengarai, pada awal-awal berada di Seminari, masih ada sementara siswa Seminari yang tergoda untuk menyontek. Tindak penyontekan seperti itu biasanya ketahuan. Yang menjadi saksi mata (mengetahui) biasanya adalah kawan-kawan di sebelahnya, tentu yang sudah sadar bahwa menyontek itu tidak boleh. Para saksi itu biasanya lalu melaporkan kasus tersebut kepada Rm. Pamong (Pembina Asrama). Rm. Pamong menindaklanjuti dengan menanyai siswa tersebut apakah betul menyontek. Kalau sudah jelas bahwa siswa itu menyontek, Rm. Pamong dan atau Wali Kelas akan melaporkannya kepada Direktur /Kepala Sekolah. Dengan rasa penyesalan, siswa pelaku penyontekan biasanya datang kepada Rm. Direktur, memohon maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Siswa baru (KPP) memang masih memerlukan waktu untuk penyesuaian hidup di lingkungan baru di Seminari. Mereka masih perlu belajar dan berjuang menjalani habitus (kebiasaan, tradisi, cara hidup) baru dan secara perlahan meninggalkan habitus lama. Maka kami mengambil kebijakan untuk tidak terburu mengeluarkan atau mengembalikan kepada orang tua siswa yang kedapatan nyontek. Mereka masih diberi kesempatan, dan dibina. Sebagai bentuk pembinaan, Direktur memberikan peringatan keras, lisan maupun tertulis. Surat peringatan tertulis berlaku untuk pertama dan terakhir kalinya selama menjalani pendidikan di Seminari. Artinya kalau siswa tersebut dalam perjalanan pendidikan di Seminari melakukan penyontekan lagi, tidak ada ampun.

Surat peringatan tertulis tersebut dikirimkan kepada orang tua di rumah, Rm. Rektor, Rm. Pamong, Wali Kelas, dan guru yang terkait. Terbukti, surat peringatan seperti itu cukup manjur. Siswa menjadi jera dan tidak berani mengulangi menyontek lagi, karena sadar akan risikonya, yaitu dikeluarkan dari Seminari. Sedang siswa yang sudah pernah mendapat surat peringatan dari Direktur karena kasus nyontek, bila melakukan penyontekan lagi, akan langsung dikeluarkan dari Seminari! Tindakan tegas dari staf Seminari seperti itu, terbukti efektif dan memiliki nilai formatif bagi siswa lain. Mereka menjadi tidak berani menyontek. Karena menyontek memang tidak mendapat tempat di Seminari Mertoyudan. No way ! Lewat langkah-langkah pembinaan yang jelas seperti itu diharapkan dalam diri para siswa lambat laun tertanam budaya jujur yang senantiasa memandu perjalanan hidup mereka sehari-hari, baik selama menempuh pendidikan di Seminari Mertoyudan maupun sesudahnya !


Martinus Hadisiswoyo, SJ

Kunjungan Pendidikan ke Singapore dan Malaysia 
Sunday, August 24, 2008, 11:40 - AKADEMIK Posted by hadi
KUNJUNGAN PENDIDIKAN KE SINGAPORE DAN MALAYSIA

Saturday, August 23, 2008, 19:11



Guna menambah pengetahuan dan memperluas wawasan, Direktur SMA Seminari Mertoyudan bersama 45 Kepala SMA eks-karesidenan Kedu mengadakan kunjungan pendidikan ke Singapore dan Malaysia. Di bawah panduan Kumala Tour Yogya, tgl. 8 Juni kami berangkat dari bandara Adisucipto Yogya, singgah sebentar di Jakarta, langsung terbang ke Batam. Dari Batam kami menuju Singapore dengan naik kapal.Tanggal 9 Juni kami mengunjungi Jurong Junior College, Singapore.Dua hal yang menarik dari sekolah negeri ini. Pertama, sekolah ini menekankan "character building". Guru yang diterima di situ, kecuali harus memiliki kecakapan untuk mengajar, juga punya kecakapan dalam hal "character building". Yang kedua, sekolah ini mewajibkan guru maupun siswa untuk mengadakan penelitian terkait dengan bidan studi, kemudian mempresentasikan hasilnya.

Selepas dari Singapore, kami bersama rombongan naik bis menuju negara tetangga, Malaysia. Tanggal 10 Juni, kami mengadakan kunjungan ke Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Seri Serdang, Kuala Lumpur. Yang unik, mayoritas guru di sekolah ini ibu-ibu dan tentu saja semua berkerudung. Pelajaran Matematika, Inggris, Fisika, Kimia dan Biologi disampaikan dalam bahasa Inggris. Ujian mengambil sistem British, dan penyelenggaranya adalah Pemerintah Pusat (Kerajaan). Kurikulum juga ditentukan oleh Pemerintah. Kecuali itu, kami sempat mengadakan kunjungan kehormatan ke Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur, diterima oleh Atase Pendidikan (Bpk. Imran Hanafi). Dia mengatakan, standar kelulusan di Malaysia adalah 7 (jauh lebih tinggi dari standar yang dikeluarkan oleh Depdiknas). Siswa yang tidak lulus ujian, mendapat surat keterangan lalu diarahkan ke sekolah vokasional sesuai dengan minat mereka.

Tanggal 11 Juni, setelah bermalam di Genting Highlands, kami mengunjungi The International Islamic School, Kuala Lumpur. Sekolah ini hendak memadukan antara ilmu sekular dan keagamaan. Kurikulum yang dipakai dari Combridge, pelajaran tambahan Alquran. Siswa berasal dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.Kebanyakan gurunya dari luar negeri, khususnya dari Eropa dan Arab Saudi. Pengajaran dilaksanakan dalam bahasa Inggris. Karenanya sekolah ini pantas disebut sekolah internasional. Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Mengembangkan Sekolah Berwawasan Internasional (SBI), tapi guru-gurunya semuanya masih dari dalam negeri. Yang menarik, di sekolah ini ada program "homestay" dan kepekaan sosial siswa diperkembangkan. Ketika di Aceh dan Yogyakarta terjadi bencana alam, perwakilan dari siswa dan guru berkunjung guna memberi sumbangan sosial.

Kunjungan pendidikan singkat ke Singapore dan Malaysia itu, saya lihat dan rasakan, bersifat meneguhkan hal-hal baik yang telah dijalankan di Seminari. Kecuali itu kunjungan tersebut memberi banyak inspirasi untuk penataan dan pengembangan Seminari ke depan supaya lebih maju, menjadi "The Moving School".








KEGIATAN AKADEMIK T.A. 2008/2009 
Wednesday, August 6, 2008, 23:02 - AKADEMIK Posted by hadi
AGENDA KEGIATAN AKADEMIK
SMA SEMINARI MERTOYUDAN

Semester I, T.A.2008/2009


JULI 2008
1.Senin, 14 Juli : Acara Staf: Rapat pemantapan
program; pengambilan buku,MOS.
2.Selasa,15 Ju : Misa Pembukaan T.A. 2008/2009,
lectio brevis
: MOS KPP dan KPA s.d. 17 Juli.
3.Rabu, 16 Juli : Kelas XII mulai
pelajaran.Kls X: Orientasi Kurikulum.
Kelas XI: Pembekalan tentang
metodologi penelitian.
4.Kamis, 17 Juli : Kelas X dan XI mulai pelajaran; KPP
dan KPA ambil buku.
: Pk. 17.00: Pertemuan moderator & pengurus SA.
5.Jumat, 18 Juli : KPP dan KPA mulai pelajaran.
6.Senin, 21 Juli : Sidang Akademi Perdana.
7.Rabu, 30 Juli : Hari Libur Isra Miraj
8.Kamis, 31 Juli : Peringatan St. Ignatius dari Loyola.


AGUSTUS 2008
1.Selasa,12 Agt : Acara Staf:"Pendalaman Standar Proses"
2.Minggu,17 Agt : Acara bersama: Upacara HUT RI.
3.Senin, 18 Agt : Libur HUT RI
4.Sabtu, 23 Agt : Kunjungan Bpk. Uskup KAS

SEPTEMBER 2008
1.Rabu, 10 Sep : Acara Staf:Pendalaman "Team Teaching"
2.Rabu, 17 19 Sept. : Triduum KPA
3.Jumat, 19 25 Sept. : Kesempatan tes sumatif untuk Rapor
Tengah Semester I
4.Senin, 29 Sept. : Penerimaan Laporan Hasil Belajar
Tengah Semester I
5.Selasa,30 Sept4 Okt. : Libur Hari Raya Idulfitri

OKTOBER 2008
1.Kamis, 2 4 Oktober : Pertemuan Pembina Seminari Regio
Jawa Bali.
2.Senin, 6 Oktober : Mulai pelajaran biasa.
3.Sabtu, 11 17 Okt. : Kegiatan Tengah Semester : Temu
Kolese 2008, homestay, live in,
LKTD, karya tulis.
4.Sabtu, 18 Oktober : Mulai pelajaran seperti biasa.
5.Selasa, 28 Oktober : Acara staf: Menyelami dunia
kesiswaan.
6.Rabu, 29 31 Okt. : Retret Kelas X


NOPEMBER 2008
1.Senin, 10 Nopember : Upacara bendera Hari Pahlawan.
2.Kamis, 20 Nopember : Acara Staf: Penelitian tindakan
kelas; persiapan TPM
3.Senin, 24 - 28 Nop. : Retret Kelas XII dan KPA.


DESEMBER 2008
1.Rabu, 3 Desember : Hari Belajar persiapan TPM.
2.Kamis, 4 13 Des. : TPM Semester Ganjil.
3.Senin, 8 Desember : Libur Hari Idul Adha
4.Senin, 15 16 Des. : Kesempatan tes ulang/her.
5.Sabtu, 20 Desember : Penerimaan Laporan Hasil Belajar
Siswa (LHBS).
6.Senin,22 Des.-3Jan.08 : Libur : Natal, akhir Semester I dan
Tahun Baru 2009.
7.Jumat, 26 Desember : Natalan staf, guru dan karyawan.


AGENDA KEGIATAN AKADEMIK
SMA SEMINARI MERTOYUDAN

Semester II,T.A.2008/2009


JANUARI 2009
1.Senin, 5 Januari : Acara Staf: Evaluasi Smt. I; agenda
kegiatan Smt.II.Misa pelantikan OSIS.
2.Selasa, 6 Januari : Mulai pelajaran semester II.
3.Kamis, 8 Januari : Pk. 17.00: Pertemuan pengurus dengan
moderator Sidang Akademi.
4.Senin, 12 Januari : Sidang Akademi: penyusunan program
Semester II
5.Senin, 26 Januari : Libur Tahun Baru Imlek 2560


FEBRUARI 2009
1.Sabtu, 7 Februari : Acara staf : Pendalaman Character
Building.
2.Rabu, 25 Feb-1 Maret : Kesemptan solisitasi untuk MU
3.Rabu, 25 Februari : Libur Hari Rabu Abu


MARET 2009
1.Senin, 2 6 Maret : Retret Kelas XI
2.Jumat, 6 9 Maret : Tes masuk Seminari (Gelombang 1);
Triduum KPP
3.Senin, 9 Maret : Libur Maulud Nabi
4.Kamis, 12 Maret : Acara Staf: Pendalaman "time management"
5.Jumat, 13 20 Maret : Perkiraan UjiCoba Ujian bagi kls XII
6.Selasa, 24 Maret : Hari Belajar
7.Rabu, 25 Mrt. 3 Apr. : Tes Tengah Semester II
8.Kamis, 26 Maret : Libur Hari Raya Nyepi.


APRIL 2009
1.Sabtu, 4 dan 6 April : Kesempatan untuk tes ulang/her
2.Selasa, 7 April : Penerimaan Laporan Hasil Belajar
Tengah Semester II
3.Rabu, 8 13 April : Libur Paskah
4.Rabu, 15 April : Penyerahan karya tulis kelas XI.
5.Senin, 20 24 April : Pelaksanaan Ujian Nasional
6.Sabtu,25-26 April : Acara Staf: Rekoleksi
7.Senin, 27 April : Libur, peringatan Santo Petrus
Canisius
8.Selasa,28 30 April : Perkiraan Ujian Praktik


MEI 2009

1.Sabtu, 2 Mei : Upacara Hari Pendidikan.
2.Senin, 11 14 Mei : Pelaksanaan Ujian Sekolah
3.Sabtu, 9 Mei : Libur Hari Raya Waisak.
4.Kamis, 21 Mei : Libur Kenaikan Tuhan Yesus, hari
belajar untuk KPA.
5.Jumat, 22 29 Mei : TPM Semester Genap KPA
6.Selasa, 26 Mei : Hari belajar persiapan TPM bagi KPP,
Kls. X dan XI.
7.Rabu,27 Mei 4 Juni : TPM Semester Genap bagi KPP, Kls.
X, XI.

JUNI 2009
1.Jumat, 5 6 Juni : Kesempatan untuk tes ulang/her.
2.Jumat, 5 7 Juni : Tes masuk Seminari (gelombang 2)
3.Senin 8 Juni : Pembekalan penyusunan karya tulis
bagi kelas X.

4.Rabu, 10 Juni : Acara Staf: Rapat kenaikan kelas.
5.Sabtu, 13 Juni : Misa Penutup, penerimaan Laporan
Hasil Belajar Siswa.
6.Minggu, 14 16 Juni : Staf intern : Rapat Evaluasi dan
Refleksi.
Guru dan TU : Persiapan evaluasi dan
penyusunan program.
7.Senin,16 Juni -12 Jul : Libur Akhir Tahun Ajaran 2008/2009.
8.Rabu, 17 Juni : Rapat Evaluasi Sekolah
9.Kamis, 18 19 Juni : Rapat Penyusunan Program Kerja
10.Senin, 20 26 Juni : Liburan staf, guru,karyawan SMA.


JULI 2009
1.Sabtu, 11 Juli : Semua staf sekolah sudah masuk
kerja, persiapan.
2.Senin, 13 Juli : Staf: Rapat pemantapan
program T.A.2009/2010.
3.Selasa, 14 Juli : Misa Pembukaan T.A. 2009/2010 ;
Lectio Brevis.

Revisi: Mertoyudan, 5 Januari 2009








| 1 |

Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 23/May/2013 Time 23:26