Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
 
PROFIL LULUSAN SEMINARI MERTOYUDAN 
Thursday, August 7, 2008, 03:00 - PROFIL Posted by hadi

PROFIL LULUSAN SEMINARI

Setelah menjalani pendidikan di Seminari, seminaris berkembang secara integral dalam sanctitas, sanitas dan scientia sehingga siap untuk meneruskan ke jenjang pendidikan imamat lebih lanjut. Profil yang diharapkan ada pada lulusan Seminari Mertoyudan adalah sebagai berikut

A. SANCTITAS
Terkait dengan sanctitas, seminaris berkembang hidup rohani, panggilan, kegerejaan, dan kemasyarakatannya.

1.Dalam hidup rohani, seminaris memiliki
a.keterarahan pada Kristus sebagai sumber dan pedoman hidup.
b.keterbukaan dan ketaatan kepada bimbingan Roh.
c.penghargaan terhadap tradisi hidup rohani, hidup doa dan sakramen-sakramen.
d.kebiasaan membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam konteks hidup nyata.
e.kemampuan dan kebiasaan berefleksi dan menjalankan pembedaan Roh.

2.Dalam hidup panggilan, seminaris memiliki
a.motivasi murni ke arah panggilan imamat.
b.kemampuan untuk memilih dan mengambil keputusan sesuai dengan panggilan hidupnya.
c.kemantapan dalam menghayati panggilan dengan menjadikan Bunda Maria sebagai teladan.
d.keterarahan hidup untuk menghayati tiga nasihat injili (ketaatan, kemurnian, kemiskinan).
3.Dalam hidup menggereja dan memasyarakat, seminaris memiliki
a.pengetahuan, perhatian dan kepeduliaan terhadap kehidupan Gereja dan masyarakat beserta masalah-masalahnya.
b.jiwa pelayanan dan semangat pengorbanan dalam melaksanakan tugas panggilannya sebagai calon pemimpin umat.
c.keterampilan berkomunikasi dan kemampuan berdialog dengan penganut agama dan kepercayaan lain.

B. SANITAS
Terkait dengan sanitas, seminaris memiliki
a.keseimbangan dalam pikiran dan perasaan
b.kemampuan untuk menerima diri apa adanya dan berusaha mengolahnya agar mempunyai kemantapan dalam kepribadiannya.
c.kebebasan batin sehingga seminaris mampu menghayati nilai-nilai, antara lain: kejujuran, kesetiaan, kedisiplinan, ketekunan, tanggung jawab, solidaritas, keadilan, dan pelayanan.
d.kesadaran diri sebagai calon imam dalam membangun relasi secara baik dengan semua orang.
e.pandangan dan penghayatan yang sehat terhadap seksualitas.

kesehatan jasmani maupun rohani (fisik–psikis) yang memungkinkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan imamat berikutnya.

C. SCIENTIA
Terkait dengan scientia, seminaris memiliki
a.tradisi membaca dan studi yang kuat, serta menemukan cara belajar yang cocok untuk mencapai perkembangan yang optimal dalam bidang intelektual.
b.keterbukaan terhadap informasi dunia dan mempunyai inisiatif untuk mengembangkan pengetahuan.
c.kemampuan untuk berpikir secara logis, kritis, kreatif, analitis, dan sintetis.
d.pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk masuk ke jenjang pendidikan imamat selanjutnya.
e.sikap dan kesanggupan untuk belajar sepanjang hidup.




Mars Seminari 
Monday, June 30, 2008, 16:52 - PROFIL Posted by damar
MARS SEMINARI

Lagu: J. Schouten SJ
Teks: A. Soenarja SJ

Hai putra Seminari, selalu sehati.
Ikut panggilan suci dengan niat murni.
Sedia akan karya bagi Greja bangsa.
Karna tujuan kita imamat mulia.

Usaha hidup suci, sehat dan berbudi.
Dengan bangga berbakti berjiwa mengabdi.
Dalam suka dan duka tetap tabah setia.
Demi tujuan kita imamat mulia.


teks asli dalam bahasa Jawa:

Mba putra Seminari, setya mring sesanti.
Rukun tunggil tenaga mangudi jejangka.
Sinanggi manah panggah, ing bingah lan susah.
Amung satunggal èsti imam Dalem Gusti.

Ing satindak satandang, manah bingar padhang.
Nuju sucining budi kanthi ulah dhiri.
Tan mundur wit rubéda, tan wigih ing karya.
Amung satunggal èsti imam Dalem Gusti.
Sejarah Seminari Mertoyudan 
Thursday, June 26, 2008, 21:46 - PROFIL Posted by sapto [Administrator]

SEJARAH (dari Wikipedia)

Awal berdirinya Seminari Menengah Mertoyudan tidak dapat dilepaskan dari 2 pemuda lulusan Kweekschool Muntilan yang berkeinginan menjadi imam, yakni Petrus Darmaseputra dan F.X. Satiman.

November 1911 mereka menghadap Romo Van Lith dan Romo Mertens SJ dan mohon agar diperkenankan belajar menyiapkan diri menjadi imam.

Niatan kedua pemuda ini, yang juga dengan mempertimbangkan kebutuhan imam di Indonesia, ternyata mampu mendorong munculnya gagasan untuk menyelenggarakan pendidikan bagi para calon imam. Proses perijinan dari Roma pun diurus, dan 30 Mei 1912 izin resmi dari Roma keluar untuk memulai lembaga pendidikan calon imam di Indonesia. Kursus pendidikan tersebut diselenggarakan di Kolese Xaverius Muntilan.

Antara tahun 1916-1920 sudah ada 10 siswa Muntilan yang dikirim ke sekolah Latin yang diselenggarakan para pastor Ordo Salib Suci di Uden, Belanda. Dua siswa meninggal dan seorang lagi terganggu kesehatannya, kemudian diambil kebijakan untuk menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Kursus di Muntilan pun disempurnakan.

Tanggal 7 September 1922, dua seminaris menjadi novis pertama pada Novisiat Serikat Yesus yang baru dibuka di Yogyakarta dengan rektor dan pimpinan novisiatnya Romo Strater SJ.

Mei 1925 dimulai Seminari Kecil (Klein Seminarie), yang gedungnya dibangun di sebelah barat kolese St. Ignatius Yogyakarta tanggal 19 Desember 1927 dan diberkati Mgr APF van Velsen SJ. Kursus diadakan bagi mereka yang baru tamat Sekolah Dasar Hollands Inlandse School (HIS) dan Europese Lagere School (ELS). Bersamaan dengan itu kursus di Muntilan, bagi mereka yang sudah memiliki ijasah guru tetap, juga tetap berlangsung.

Sekitar tahun 1927 kursus ini digabung dengan Seminari Kecil di Yogyakarta. Karena jumlah siswnya meningkat hingga 100 siswa lebih, seminari dipindah ke Mertoyudan Magelang. Pelajaran pertama dimulai 13 Januari 1941.

8 Maret 1942 tentara Belanda menyerah kepada Jepang. Gedung Seminari Mertoyudan diduduki Jepang dan digunakan untuk sekolah Pertanian Nogako. Tanggal 5 April 1942 para seminaris terpaksa pulang ke rumah masing-masing. Meski demikian pendidikan calon imam tetap dilangsungkan di berbagai pastoran, diantaranya di Boro, Yogyakarta, Ganjuran, Muntilan, Girisonta, Ungaran, Semarang dan Solo. Pelajaran diberikan dengan sembunyi-sembunyi. Selama masa sulit ini, seminari lazim disebut Seminari in diaspora. Situasi ini berlangsung hingga 1945.

Dalam masa Revolusi Fisik, gedung Seminari Mertoyudan sempat dibumihanguskan. Sisa-sisa bangunan menjadi jarahan. Setelah situasi tenang, Seminari dibangun kembali oleh Vikariat Semarang dan berakhir Agustus 1952. Bangunan tersebut sekarang merupakan bagian dari gedung Domus Patrum dan Medan Madya. Setelah pembangunan selesai, selama liburan para seminaris pindah ke Mertoyudan.

Tanggal 3 Desember 1952 gedung Seminari Mertoyudan diberkati Mgr Albertus Soegijapranata SJ. Lima tahun kemudian dibangun gedung tambahan yang dipergunakan untuk seminari, yaitu Medan Utama dan Medan Pratama. Sejak saat itu semakin banyak murid tamatan SD yang diterima di Seminari Mertoyudan. Namun berdasar pertimbangan lain, tamatan SD tidak diterima lagi sejak tahun 1968. Yang diterima hanya tamatan SLTP dan SLTA.

Tahun 1971 siswa seminari lulusan SLTA tinggal di Yogyakarta dan mengikuti kuliah di IKIP Sanata Dharma hingga menyelesaikan pendidikan sarjana muda. Tahun 1972 siswa tamatan SLTA juga ditampung di Seminari Mertoyudan. Karena berbagai alasan, tahun 1974 di Wisma Realino Yogyakarta dibangun cabang Seminari untuk menampung siswa tamatan SLTA.

Di Mertoyudan dilakukan penambahan gedung. Tahun 1976 dilakukan penambahan gedung, yang diresmikan dan mulai dihuni oleh Seminaris Medan Utama. Tahun itu juga Seminari Cabang Yogyakarta digabung lagi dengan Seminari Mertoyudan hingga sekarang.
Makna Lambang Seminari Mertoyudan  
Thursday, June 26, 2008, 21:33 - PROFIL Posted by sapto [Administrator]

1. Kebanyakan lembaga pendidikan memiliki lambang.
Lambang adalah gambar atau lukisan yang menyatakan sesuatu atau mengandung maksud tertentu. Lewat lambang tersebut pemrakarsa/ pendiri lembaga pendidikan bermaksud melukiskan apa yang menjadi cita-cita atau visi lembaga yang didirikan. Nilai-nilai yang terkandung dalam lambang tersebut menjadi acuan dan penggerak dalam menyelenggarakan pendidikan.

2. Gambar lambang Seminari Mertoyudan:

3. Makna warna dalam lambang :

a. Perisai melambangkan perjuangan.

b. Warna dasar kuning emas melambangkan kemuliaan.

c. Warna hijau pada tulisan SSS melambangkan harapan untuk bertumbuh.

d. Warna merah pada karang melambangkan kegairahan.

e. Warna hitam pada anjing melambangkan kesungguhan.

f. Warna putih pada latarbelakang karang dan anjing melambangkan kesucian.

g. Dengan demikian, lambang Seminari Mertoyudan itu mengandung pengertian, dengan kegairahan dan kesungguhan yang didasari oleh niat suci, Seminari berjuang untuk pertumbuhan Seminaris dalam sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan), dan scientia (pengetahuan) menuju cita-cita imamat mulia seturut teladan Santo Petrus Canisius.

4. Huruf "CS" dalam lambang merupakan singkatan dari "Canisii Seminarium", yang artinya "Pesemaian Canisius". Gambar "batu karang" di bawah tulisan "CS" mau mengungkapkan Petrus sebagai batu karang. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Yesus kepada Petrus, "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Mat 16: 8). Gambar "anjing" mau menunjuk nama diri "Canisius" (canis = anjing). Dengan lambang itu, mau diungkapkan bahwa Seminari Menengah Mertoyudan berada di bawah lindungan Santo Petrus Canisius. Petrus Canisius dijadikan pelindung Seminari Mertoyudan karena beliau mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan calon-calon imam.

5. Huruf "SSS" merupakan singkatan dari Sanctitas, Sanitas, dan Scientia. Dengan "SSS", dimaksudkan bahwa Seminari Menengah Mertoyudan bercita-cita mendidik seminaris agar seminaris berkembang secara seimbang dalam kesucian, kesehatan, dan pengetahuan. Kata "Sanctitas", "Sanitas", dan "Scientia" tersebut diharapkan menjadi acuan baik bagi para pembina dalam memberikan pendampingan maupun bagi seminaris dalam mengembangkan diri ke arah panggilan imamat.

6. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan makna lambang Seminari Menengah Mertoyudan. Petrus Canisius dipilih sebagai pelindung Seminari Mertoyudan karena beliau adalah seorang tokoh Gereja yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan calon-calon imam. Berkat teladan dan semangatnya, seminaris -dalam kerjasama dengan para pembina - dan dengan didasari kegairahan, kesungguhan, niat suci, dan keterbukaan pada Roh Kudus - berjuang mengembangkan diri menjadi pribadi yang suci, sehat, dan berpengetahuan menuju cita-cita imamat mulia dalam rangka memenuhi kebutuhan Gereja.



diambil dari website
http://www.geocities.com/bayu_asmara/maknalambang.htm

<Back | 1 |

Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 20/June/2013 Time 19:12