Sunday, December 28, 2008, 23:32 - ALUMNI Posted by hadi
SEMINARI MERTOYUDAN : JANTUNG GEREJA ? *)Pengantar
Akhir-akhir ini ungkapan Seminari sebagai jantung Keuskupan/Gereja (Optatam Totius no. 5) banyak muncul dalam berbagai tulisan dan pertemuan yang membahas tentang keberadaan Seminari. Semakin seringnya ungkapan tersebut dimunculkan semoga menjadi pratanda tumbuhnya kesadaran tentang pentingnya pendidikan Seminari bagi masa depan Gereja. Munculnya kesadaran ini nampaknya dipicu oleh keprihatinan tentang menurunnya peminat yang masuk ke Seminari. Kita semua tentu tidak rela kalau sampai Seminari yang merupakan ujung tombak Gereja masa depan dalam kondisi kurang sehat yang kalau tidak diatasi bisa gulung tikar, entah karena tidak ada peminat yang masuk maupun karena alasan finansial.
1. Keprihatinan Seminari
1.1. Keprihatinan Seminari Mertoyudan
a. Semakin menurunnya peminat yang mendaftar masuk ke Seminari baik secara
kuantitatif maupun kualitatif
b. Semakin meningkatnya beaya penyelenggaraan pendidikan Seminari.
Kedua keprihatinan itu saling berkaitan. Kalau “input” siswa menurun secara kuantitatif maupun kualitatif, hal ini berdampak pada mutu Seminari (output). Sedangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, dalam prosesnya membutuhkan banyak dana.
1.2. Keprihatinan Seminari Regio Jawa-Bali
Pertemuan tahunan para Pembina Seminari Menengah Regio Jawa Bali di Wisma Pratista, Cimahi, Jawa Barat, tanggal 4-6 Oktober 2008, merumuskan adanya 3 keprihatinan.
a. Terkait dengan pengelolaan lembaga Seminari.
Sebagai lembaga yang menjadi “jantung Gereja”, Seminari harus dikelola secara profesional disertai dengan komitmen dan pelayanan yang total. Untuk itu., unsur-unsur pembinaan yang sudah ada yang meliputi dimensi personal, intelektual, spiritual, dan pastoral perlu diperhatikan dan ditingkatkan.
b. Terkait dengan pembina, seminaris dan pembinaan.
• Pembina : kualitas, kuantitas, ketepatan penempatan, pembinaan mentalitas dan kecakapan managerial.
• Seminaris : semakin menurunnya kuantitas dan kualitas seminaris
• Pembinaan : proses pembinaan berpengaruh terhadap jumlah dan mutu “output “ imam.
c. Terkait dengan pendanaan
Ketersediaan dana amat penting demi keberlangsungan Seminari. Dana tersebut juga ikut menentukan kualitas pendidikan Seminari dan masa depan Gereja. Namun dirasakan, hal ini belum menjadi kesadaran dan prioritas perhatian dari paroki, tarekat, dan lembaga Gerejawi lainnya.
Ada baiknya pokok-pokok keprihatinan di atas menjadi perhatian dan bahan pembicaran dalam seminar ini, kemudian dipikirkan tindak lanjutnya.
2. Tantangan yang dihadapi Seminari
a. Dalam kurun waktu cukup lama Seminari terkesan berhenti di tempat. Seminari berjalan berdasarkan tradisi dan dengan fisik gedung yang belum banyak mengalami perubahan. Sementara itu di luar sana telah dibangun dan dikembangkan sekolah-sekolah dengan tampilan menarik dan fasilitas yang serba lengkap. Kalau tidak ingin ketinggalan zaman, mau tidak mau Seminari harus berbenah dan berubah. Ke depan Seminari perlu dibangun menjadi lembaga pendidikan yang maju (modern) dengan dukungan fasilitas dan tampilan fisik yang menarik (tak kumuh) sehingga menjadi daya tarik bagi kaum muda untuk memasukinya.
b. Penurunan jumlah siswa sebenarnya menjadi gejala umum sebagai dampak keberhasilan KB dan semakin banyaknya jumlah sekolah. Namun penurunan jumlah peminat masuk Seminari ke depan kemungkinan bisa lebih parah karena keberadaan Seminari sebagai lembaga pendidikan dengan ciri khusus dan dengan segmen pelanggan yang serba terbatas. Maka penurunan jumlah calon yang masuk Seminari, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, perlu disikapi secara serius. Masalahnya adalah, yang namanya Seminari itu “sekolah langka” ; di KAS hanya ada satu Seminari Menengah. Kalau diyakini bahwa Seminari adalah jantung Gereja, maka bukan hanya jajaran KAS yang mesti prihatin, tetapi seluruh umat yang peduli terhadap keberadaan Gereja. Menjadi tantangan semua pihak untuk memikirkan dan mencari jalan bagaimana supaya Seminari Mertoyudan ke depan tetap dapat memiliki siswa dalam cukup memadai, kalau mungkin semakin meningkat.
c. Sebagai lembaga pendidikan yang berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, mau tidak mau Seminari terkena dampak kebijakan Pemerintah dalam bidang pendidikan, baik yang positip maupun negatif. Lewat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Depdiknas sebenarnya telah menyediakan peluang pada sekolah-sekolah untuk menyusun kurikulum sendiri sesuai dengan cirikhas, visi-misi dan tujuan satuan pendidikan. Namun di pihak lain jajaran Depdiknas mengeluarkan kebijakan yang kurang sejalan dengan maksud memandirikan sekolah. Jumlah pelajaran tiap minggunya dikurangi, tetapi materi pelajaran yang harus diajarkan tetap banyak. Sementara itu, kendati mendapat banyak tentangan, Depdiknas lewat BSNP tetap menyelenggarakan Ujian Nasional, bahkan jumlah mata pelajaran yang di-UN-kan ditambah menjadi 6 pelajaran. Karenanya KTSP yang menekankan proses dalam pembelajaran, dalam kenyataan tidak bisa dijalankan secara optimal. Tantangan yang dihadapi para pengajar/pendidik Seminari adalah bagaimana supaya Seminari tak terbawa arus policy Pemerintah yang cenderung menekankan “output” akademik, tetapi tetap konsisten menyelenggarakan pendidikan utuh yang mampu memberdayakan segenap kompetensi siswa.
d. Bagaimana dengan mutu Seminari? Pada lima (5) tahun terakhir ini posisi SMA Seminari di Kabupaten Magelang masih cukup baik. SMA Seminari menduduki peringkat antara 2 – 5 dari 32 SMA di Kabupaten Magelang. Mutu ditentukan oleh input dan proses pembelajaran. Pada Penerimaan Seminari Baru (PSB) untuk TA. 2006/2007, syarat akademik untuk diterima di Seminari diturunkan karena keterbatasan calon. Calon dengan kualifikasi akademik R (Rendah, 4.00-4.99) diterima kalau hasil wawancara “baik”. Kami berusaha menguati prosesnya. Sekarang sedang dikembangkan “team teaching” agar pendampingan belajar siswa lebih personal. Tetapi dengan input siswa yang cenderung turun baik secara kualitatif maupun kuantitatif, pendidik Seminari dihadapkan pada tantangan berat bagaimana mengusahakan agar mutu akademik Seminari tetap terjaga.
3. Langkah-langkah yang telah diambil
a. Melakukan Asesmen menyeluruh atas keberadaan lembaga Seminari. Asesmen yang dipersiapkan oleh staf, baik staf intern maupun sekolah, dibahas dalam pertemuan yang dihadiri para petinggi KAS dan Provinsi SJ Indonesia di Muntilan, 13 – 15 Februari 2007. Dalam rangka Asesmen tersebut, sempat berkembang wacana tentang alternatif format pendidikan Seminari. Antara lain: a) Dibuka SMA untuk umum dan Seminari menjadi bagian darinya ( seperti SMA Gonzaga – Seminari Wacana Bhakti, Jakarta); b) Seminari menerima calon siswa yang sejak semula tidak punya motivasi untuk menjadi imam namun potensial untuk dididik sebagai kader-kader Gereja; c) Seminari tetap dipertahankan dengan format seperti yang berjalankan selama ini.
b. Guna menindaklanjuti Asesmen tersebut, Uskup Agung KAS membentuk Tim Khusus yang bertugas mengawal staf Seminari dalam mengambil langkah-langkah lanjut, antara lain: a) Merevisi/merampingkan kurikulum KPP (Kelas Persiapan Pertama), b) Memberi kesempatan pada siswa yang merasa tidak terpanggil menjadi di imam untuk terus melanjutkan pendidikan hingga lulus SMA Seminari (tidak dikeluarkan atau diminta mundur).
Dalam rangka perampingan kurikulum, mulai TA. 2007/2008 jumlah mata pelajaran KPP dikurangi dari 17 mata pelajaran menjadi 13 mata pelajaran. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) KPP untuk semua mata pelajaran ditentukan enam (6). Demikian pula syarat kenaikan dari KPP ke kelas X dilonggarkan. Kecuali itu Seminari melakukan ujicoba menerima siswa dengan status “test case”. Ada 12 siswa diterima dengan pertimbangan hasil wawancara “baik”, meski secara akademik tidak memenuhi kriteria akademik (TC, RR). Ada 6 siswa “test case” yang sekarang duduk di kelas X (MM1).
c. Sebelum Tim Khusus tuntas melaksanakan tugasnya, pada kesempatan HOT KPP-KPA pada tgl. 23-24 Agustus 2008, Bpk.Uskup Mgr. I. Suharyo menegaskan di hadapan siswa dan staf : “Selama saya menjadi Uskup KAS, Seminari akan dipertahankan dengan format seperti selama ini, yaitu sebagai tempat pendidikan bagi calon imam”. Yang diterima di Seminari hanya calon yang punya motivasi menjadi imam. Namun kalau dalam perjalanan pendidikan, siswa tertentu menyadari bahwa dirinya tak terpanggil menjadi imam, dia tetap diperbolehkan meneruskan pendidikan hingga lulus SMA (tidak dikeluarkan dari Seminari). Terkecuali kalau siswa melakukan tindakan kriminal atau kehadirannya punya pengaruh amat buruk bagi mereka yang hendak meneruskan ke jenjang imamat. Alasan Seminari tetap dipertahankan seperti selama ini adalah, karena dengan format pendidikan sekarang ini ternyata sudah banyak perubahan menuju kemajuan dibuat oleh staf Seminari. Maka melakukan perubahan radikal dirasa tidak perlu. Yang diperlukan adalah melanjutkan perubahan-perubahan yang telah diusahakan selama ini, hingga Seminari berkembang menjadi semakin baik.
d. Mengawali Tahun Ajaran 2008/2009, dalam kesempatan “lectio brevis” 15 Juli 2008 , Direktur Seminari mencanangkan Seminari sebagai “The Moving School”. Inti dari “lectio brevis” ini adalah ajakan agar Seminari tidak berputar-putar atau berjalan di tempat, melainkan terus bergerak maju dan menyesuaikan diri dengan tantangan dan tuntutan zaman. Pada kesempatan “lectio brevis” itu disampaikan apa yang hendak diunggulkan dalam pendidikan Seminari, yaitu character building dan kecakapan berbahasa Inggris. Lectio brevis ini mendapat tanggapan positip dari staf maupun dari seminaris, dan mereka berusaha menindaklanjutinya. Terlihat di antara staf maupun siswa adanya semangat untuk maju.
e. Guna menindaklanjuti keinginan untuk bergerak maju, Seminari terus berbenah. Seminari telah melengkapi diri dengan internet dan berlangganan “speedy unlimited”. Di kawasan Seminari juga telah dipasang hotspot. Kebanyakan guru mengajar dengan memanfaatkan multimedia yang tersedia. Kepada para guru telah diberi pinjaman lunak untuk pembelian laptop. Berkat bantuan Pemerintah telah tersedia Lab Bahasa dan Lab Komputer sederhana untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Jumlah LCD juga terus ditambah. Dan berkat bantuan Pemda Jateng juga telah berhasil dibangun gedung musik untuk menampung peralatan musik.
f. Kami sadar, para siswa/seminaris hidup dalam era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Maka pada mereka juga disediakan “warnet” (5) untuk pencarian bahan-bahan pelajaran, Sidang Akademi, karya tulis, dan juga untuk media komunikasi. Mereka juga dilatih dan menjadi terlatih memanfaatkan LCD, laptop, program PowerPoint dan flash untuk presentasi, baik pada waktu pelajaran maupun kegiatan asrama. Lebih jauh, terinspirasi oleh kunjungan ke Jurong Junior College (Singapore), kami mendorong para siswa maupun guru untuk mengadakan penelitian. Untuk itu, tugas karya tulis diarahkan disusun berdasarkan suatu penelitian. Sekarang di antara para siswa sudah mulai berkembang “budaya meneliti”.
g. Seminari juga berusaha memanfaatkan sarana internet sebagai media komunikasi dan informasi. Semula dengan mempergunakan Blog : mhadisiswoyo@wordpress.com. Nama blog-nya terkesan pribadi, tetapi di sini saya menempatkan diri sebagai wakil lembaga yang memberi informasi seluk beluk tentang Seminari. Kemudian ini dikembangkan oleh Mas Hb.Sapto Nugroho (alumni) menjadi website dengan tampilan yang lebih menarik, yaitu: www.mertoyudan.org. Lewat website itu, Seminari mencoba memperkenalkan diri. Di dalamnya juga disampaikan laporan aneka kegiatan dan berita aktual yang dilaksanakan di Seminari. Diharapkan website di samping sebagai media komunikasi, juga bisa menjadi sarana promosi panggilan.
h. Dari sisi kelembagaan terus ada usaha pembenahan. Sekarang sudah mulai terbangun tradisi menyusun RAPB. Seminari hidup berdasarkan RAPB. Dengan RAPB ini, usaha pengembangan Seminari menjadi lebih bisa direncanakan. Sementara itu Rm. Rektor selalu menyampaikan informasi tentang keadaan Seminari dari sisi kesiswaan maupun keuangan ke paroki-paroki. Kecuali paroki-paroki, lembaga religius di KAS juga disapa untuk mendapat dukungan finansial. Posisi keuangan (pendapatan/pengeluaran) dilaporkan secara transparan ke pastor paroki. Dalam rangka menambah pemasukan finansial, dibuat surat “Dana Peduli Seminari” yang dikirim ke paroki-paroki dan umat. Juga dilakukan korespondensi untuk menyapa para Kepala SMP dan SMA/SMK agar ikut memperkenalkan Seminari dan memberi dukungan pada siswa yang hendak masuk ke Seminari Mertoyudan. Administrasi kelembagaan Seminari terus dibenahi dengan dukungan data yang semakin lengkap. Semua tanah milik Seminari sudah selesai diurus oleh Rm. Minister, dan semuanya sudah bersertifikat Hak Milik.
i. Untuk memperkenalkan Seminari dan dalam rangka promosi, Seminari mengambil langkah untuk lebih membuka diri. Seminari menerima dengan senang hati siapa saja yang hendak berkunjung. Bahkan Seminari mengundang siapa yang berminat untuk mampir dan berkunjung. Kecuali umat pada umumnya, banyak kelompok seperti PIA, misdinar, siswa-siswi dari berbagai tempat, telah berkunjung ke Seminari. Seminari juga menyediakan tempat bagi kelompok-kelompok tertentu yang bermaksud melakukan homestay, rekoleksi, atau pertemuan. Sekarang ini Seminari menjadi bagaikan tempat wisata/museum hidup yang semakin banyak dikunjungi.
4. Pengembangan Seminari ke depan
Dari uraian di atas menjadi jelas, sudah banyak usaha dan langkah yang diambil oleh staf beserta jajarannya untuk mengembangkan dan memajukan Seminari. Dengan kata lain sekarang ini Seminari sudah dalam posisi bergerak maju menuju kondisi yang lebih baik. Gerak maju tersebut perlu terus diusahakan. Usaha ini hendaknya dijalankan berbarengan dengan penanaman kesadaran pada umat beriman bahwa Seminari adalah sungguh jantung Gereja yang perlu mendapat prioritas perhatian.
1) Menjadikan Seminari sungguh sebagai jantung Gereja
a. Jantung merupakan organ amat penting bagi kehidupan manusia. Tanpa jantung tidak mungkin manusia bisa hidup. Kalau ada gangguan pada jantung, kehidupan manusia juga akan ikut terganggu. Siapa pun yang menyadari fungsinya jantung, akan berusaha menjaga agar jantung tetap dalam kondisi sehat. Dia akan menghindari makanan atau kegiatan yang bisa menyebabkan gangguan jantung. Sedang mereka yang tahu bahwa ada gangguan atau penyakit jantung dalam dirinya, akan datang ke dokter dan berusaha berobat agar jantung bisa sehat kembali.
b. Dengan mengatakan bahwa Seminari adalah jantung Gereja/Keuskupan mau digarisbawahi betapa pentingnya Seminari untuk kehidupan Gereja. Yang dimaksud dengan Seminari di sini bukan terutama gedung dengan segala kelengkapannya, tetapi adanya seminaris yang dididik untuk menjadi calon-calon imam. Semakin banyak dan semakin bermutu seminarisnya, akan semakin terjamin masa depan Gereja. Karena dari Seminari itu pula Gereja bisa berharap akan memperoleh calon-calon imam yang akan menghidupi Gereja. Sebaliknya semakin berkurangnya seminaris, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, harus dibaca sebagai sinyal kurang cerahnya masa depan Gereja.
c. Selama ini perhatian KAS sebagai pemilik Seminari Mertoyudan sudah cukup besar. Setiap tahun, pada kesempatan HOT KPP-KPA, Bpk. Uskup selalu berusaha mengadakan kunjungan kerja di Seminari, mengadakan dialog baik dengan staf maupun seminaris. Dalam setiap kunjungan dan perjumpaan di paroki-paroki, Bpk. Uskup juga sering “mengangkat” keprihatinan yang dihadapi Seminari Mertoyudan. Hanya memang belum semua (pastor) Paroki memandang Seminari sebagai jantung Gereja. Mengingat strategisnya peranan Seminari, ke depan perlu lebih giat dilakukan penyadaraan di antara umat beriman tentang pentingnya pendidikan Seminari, agar kemudian ikut terlibat menghidupi dan “nguri-uri” Seminari dengan mengirim calon-calon dan memberi bantuan finansial.
2) Seminari harus terus bergerak maju
a. Ada adagium mengatakan: “Ecclesia est reformata et semper reformanda”: Gereja telah diperbaharui dan harus selalu diperbaharui”. Gereja perlu terus diperbaharui, jangan sampai menjadi tua, akhirnya mati. Demikian pula Seminari sebagai jantung Gereja perlu terus diperbaharui dan memperbaharui diri sesuai tuntutan dan perkembangan jaman. Jangan sampai Seminari yang hidup di tengah pusaran zaman yang terus maju dan berkembang, puas diri dengan keberhasilan masa silam lalu berhenti atau berputar-berputar di tempat. Maka langkah untuk mengusahakan Seminari bergerak semakin maju perlu dilanjutkan agar ke depan Seminari berkembang menjadi lembaga pendidikan yang dinamis sekaligus bermutu.
b. Harapan menjadikan Seminari punya keunggulan dalam bidang “character building” (kepribadian) dan kecakapan berbahasa Inggris perlu didukung oleh semua pihak agar bisa terwujud. Kedua bidang itu diunggulkan bukan karena dalam kondisi sekarang tidak mungkin Seminari mencapai keunggulan akademik, tetapi karena kedua hal tersebut amat dibutuhkan oleh para siswa sebagai bekal hidup di era globalisasi. Kemampuan berbahasa Inggris perlu terus diusahakan, tidak hanya lewat pelajaran di kelas , tetapi juga lewat kursus-kursus dan kegiatan ekstra (SPES).
c. Promosi panggilan perlu terus digalakkan dan kesadaran keluarga kristiani untuk mendukung anak-anaknya masuk Seminari perlu terus ditumbuhkan. Dukungan yang diberikan umat kepada Seminari dalam wujud sumbangan uang, beasiswa, barang kebutuhan harian Seminari dll. tentu amat dibutuhkan. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan keluarga-keluarga kristiani dalam wujud merelakan putera-puteranya untuk masuk Seminari. Dari mana Seminari akan mendapat calon-calon siswa kalau tidak dari umat Katolik sendiri ?
d. Pada bulan Nopember 2011 Seminari akan genap berusia 100 tahun. Peringatan satu (1) abad ini perlu dijadikan momen untuk mengambil langkah-langkah agar Seminari terus bergerak maju. Mengembangkan Seminari menjadi lembaga pendidikan yang maju/modern mengandaikan bangunan gedung perlu ditata ulang dan direnovasi, fasilitas pendidikan perlu terus dilengkapi, kurikulum sekolah dan asrama yang integral, kompetensi tenaga pendidik/guru terus dikembangkan, kesejahteraan tenaga pendidik ditingkatkan, dll. Sedang hal-hal yang dirasa sudah baik terkait dengan program pembinaan siswa kekhasan Seminari seperti : kebiasaan refleksi, bimbingan rohani, tulis menulis, karya tulis, Sidang Akademi, MK (Malam Kreativitas), MAMURI (Malam Musik Seminari), tinggal melanjutkan dan meningkatkan.
e. Sehubungan dengan pengembangan sarana fisik, Rm. Minister sudah punya rancangan untuk merenovasi dan menata ruang-ruang persekolahan. Kantor persekolahan direncana direnovasi/dibangun supaya lebih representatif dan supaya wajah Seminari sebagai sekolah menjadi lebih tampak. Ruang-ruang kelas juga perlu ditata ulang dan direnovasi supaya ukurannya memenuhi standar. Juga sudah mulai dipikirkan kemungkinan membangun Hall/Auditorium. Untuk itu semua dibutuhkan dana yang tidak sedikit.
f. Seluruh usaha untuk membuat Seminari semakin maju tersebut di atas bukan karena Seminari mau latah atau sekedar meniru sekolah-sekolah lain yang telah maju. Perlunya bergerak maju ini harus dilihat sebagai konsekuensi logis dari perubahan zaman. Sudah barang tentu gerak maju yang kita usahakan tersebut tetap harus berpijak pada jati diri Seminari sebagai lembaga pendidikan calon-calon imam milik Keuskupan Agung Semarang.
5. Harapan kepada Alumni
a. Selama ini banyak alumni yang telah menunjukkan kepeduliannya bagi almamater-nya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk bantuan keuangan untuk modal Koperasi Simpan Pinjam Danarto bagi karyawan sekolah maupun rumah tangga, kesediaan menjadi narasumber sesuai kebutuhan Seminari, bantuan dalam wujud peralatan, pembuatan website untuk Seminari, penggalangan Dana Abadi yang sedang berjalan, dan yang terakhir bantuan keuangan untuk guru yang sedang sakit, dll. Kepedulian juga ditunjukkan dengan ikut memikirkan dan memberi masukan-masukan untuk pendidikan di Seminari seperti yang kita usahakan lewat seminar ini. Atas kepedulian dan semua bantuan itu, atas nama lembaga Seminari kami mengucapkan banyak terima kasih.
b. Kami masih mengharapkan bantuan dan keterlibatan lebih jauh dari alumni sesuai kompetensi dan keahlian masing-masing untuk kemajuan Seminari.
• memberi masukan sekitar mentalitas/psikologi remaja zaman sekarang dan bagaimana menghadapinya
• memberi masukan sekitar pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan (Seminari) disesuaikan dengan kemajuan zaman
• memberi masukan tentang cara-cara dan bentuk-bentuk pembinaan watak (character building).
• memberi pelatihan keterampilan berkomunikasi pada para siswa, baik lisan maupun tertulis, dll.
• memberi pelatihan dan pendampingan bagi seminaris dalam meningkatkan kecakapan berbahasa Inggris
• memberi dukungan finansial bagi guru/karyawan yang hendak meningkatkan profesionalitasnya dengan studi lanjut.
• memberi masukan dan bantuan agar lahan Seminari yang luas dan potensi yang ada di dalamnya bisa dimanfaatkan secara produktif.
c. Kami yakin, banyak di antara alumni yang memiliki aneka potensi dan keahlian yang bisa disumbangkan untuk kemajuan pendidikan di Seminari. Tetapi hingga kini potensi dan keahlian itu belum terdeteksi secara lengkap dan baru sebagian yang dibagikan ke Seminari. Kiranya masalahnya bukan karena alumni tidak mau, tetapi karena belum terbentuk jejaring alumni yang bisa menjadi wadah dan sekaligus mediasi komunikasi antara alumni dengan Seminari. Kami sering tidak tahu ke mana dan siapa yang harus kami hubungi saat membutuhkan narasumber untuk kepentingan pembinaan seminaris. Sehubungan dengan hal ini, database lengkap alumni Seminari semua angkatan dengan segala keahlian yang dimilikinya, amat diperlukan. Dengan kata lain mendesak untuk diwujudkan adanya semacam Paguyuban Alumni Seminari (entah mau disebut apa) yang merangkum semua angkatan dengan struktur organisasi dan pengurus yang jelas, yang keberadaannya diakui dan didukung oleh semua alumni. Konkretnya, bagaimana Paguyuban Alumni yang telah terbentuk pada pertemuan tgl. 4-5 Juli 2008 di Seminari Mertoyudan “dikepyake” dan dideklarasikan sebagai Paguyuban/Perkumpulan Alumni yang resmi dari Seminari Mertoyudan, dengan tetap membiarkan kelompok-kelompok berdasarkan angkatan berkiprah sesuai identitasnya.
Penutup
Apakah selama ini Seminari Mertoyudan sungguh sudah dipandang sebagai jantung Gereja (Keuskupan)? Lantas siapa yang punya otoritas untuk menegaskan bahwa Seminari memang jantung Gereja? Tentu saja bukan hanya petinggi KAS, tetapi juga kita semua. Semoga semakin tumbuh kesadaran dan keyakinan dalam diri umat beriman, termasuk alumni, bahwa Seminari adalah jantung Gereja. Karena dari Seminari itu berasal imam-imam. Tanpa imam tentu Gereja tak dapat hidup dan berkembang normal. Seorang uskup mengatakan: “Tanpa imam Gereja akan terbang dengan satu sayap”. Kalau sudah diterima bahwa Seminari adalah jantung Gereja, maka menjadi tanggungjawab kita bersama untuk memelihara “jantung” itu supaya tetap dalam kondisi sehat. Jangan sampai Seminari Mertoyudan terkena “stroke”, karena hal ini akan bisa menjadi kendala bagi hidup Gereja di masa depan.
Mertoyudan, 27 Desember 2008
M. Hadisiswoyo SJ
*) Disampaikan dalam seminar alumni Seminari Menengah Mertoyudan, di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 27 Desember 2008.





|
Wednesday, June 25, 2008, 23:37 - ALUMNI Posted by sapto [Administrator]
Sejak April 2008telah dibuka database untuk alumni semua angkatan.
Namun demikian ruang komunikasi dalam bentuk mailing list
untuk tiap2 angkatan atau lintas angkatan tetap berjalan.
Database ini diharapkan menjadi acuan/pusat database
alumni seminari mertoyuydan.
url/websitenya di
http://merto.seminari.net
mailing list (merto21)
http://groups.yahoo.com/group/merto21/
Silahkan isi/register data
baik yang menjadi imam/pastor maupun tidak
trima kasih
hb.sapto nugroho
kpp 1977
|

